Kapolda Riau Namai Anak Gajah Sumatera Nona Seroja, Ternyata Ini Makna Filosofisnya

Kapolda Riau memberikan nama Nona Seroja untuk anak Gajah yang lahir di Tesso Nilo. (Foto: Istimewa)

PELALAWAN, FOKUSRIAU.COM-Anak gajah Sumatera betina yang lahir di kawasan Elephant Flying Squad, Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Kabupaten Pelalawan resmi diberi nama Nona Seroja. Nama tersebut diberikan Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan sebagai simbol harapan bagi keberlangsungan konservasi gajah Sumatera dan ekosistem Tesso Nilo.

Pemberian nama dilakukan setelah Herry berkoordinasi dan memperoleh izin dari Menteri Kehutanan. Menurutnya, nama Nona Seroja dipilih, karena memiliki makna filosofis tentang ketangguhan dan kemampuan untuk bertahan di tengah berbagai tantangan.

“Nama ini memiliki makna yang mendalam. Seroja adalah bunga yang mampu tumbuh dan berkembang di tempat yang keruh. Harapannya, Nona Seroja dapat menjadi simbol harapan, ketangguhan, dan masa depan konservasi gajah Sumatera,” kata Herry, Kamis (11/6/2026).

Kelahiran Nona Seroja sendiri menjadi kabar menggembirakan bagi pengelola kawasan konservasi. Bayi gajah tersebut lahir dari induknya, Ria (55), pada Rabu (10/6/2026) di kawasan Elephant Flying Squad, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui.

Keberadaannya pertama kali diketahui oleh mahout atau pawang gajah saat menjemput Ria dari lokasi penggembalaan pada pagi hari. Saat itu, bayi gajah sudah berada di samping induknya dalam kondisi sehat.

Baca Juga:  Bayi Gajah Sumatera Lahir di Tesso Nilo, Tambah Populasi Satwa Kritis di Riau

Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo, Heru Sukmantoro, mengatakan kelahiran tersebut sempat mengejutkan tim konservasi karena kehamilan Ria sebelumnya tidak terdeteksi melalui pemeriksaan medis.

“Pagi itu didapati kondisi bayi gajah sudah berada di samping induknya, lengkap dengan ari-arinya. Ini yang menjadi kejutan bagi kami,” ujar Heru.

Ia menjelaskan, selama ini perhatian tim lebih tertuju kepada gajah bernama Lisa yang berdasarkan hasil pemeriksaan diperkirakan akan melahirkan lebih dulu. Sementara hasil pemeriksaan terhadap Ria tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kehamilan.

“Dari hasil USG dan analisis dokter, kehamilan Ria memang tidak terdeteksi. Karena itu, kelahiran ini benar-benar menjadi kejutan,” katanya.

Nona Seroja lahir dengan bobot 102 kilogram dan tinggi 93 sentimeter. Hingga kini, kondisi anak gajah dan induknya dilaporkan sehat serta terus dipantau oleh tim dokter hewan dan petugas konservasi.

Bagi pengelola TNTN, kelahiran tersebut menjadi indikator penting bahwa upaya pelestarian gajah Sumatera masih menunjukkan hasil positif. Regenerasi satwa dilindungi itu dinilai sangat penting mengingat populasi gajah Sumatera terus menghadapi tekanan akibat penyempitan habitat, perambahan kawasan hutan, dan konflik dengan manusia.

Baca Juga:  BMKG Peringatkan Hujan Lebat dan Angin Kencang di Sejumlah Wilayah Riau Hari Ini

Herry menilai lahirnya Nona Seroja menjadi pesan bahwa Tesso Nilo masih menyimpan peluang bagi keberlangsungan satwa liar yang hidup di dalamnya.

“Ini pertanda baik. Gajah Sumatera terus beregenerasi dan menunjukkan bahwa Tesso Nilo masih menyimpan harapan bagi kelestarian satwa liar dan ekosistemnya,” ujarnya.

Nona Seroja merupakan anak kelima yang dilahirkan Ria selama berada dalam program konservasi di Tesso Nilo. Sebelumnya, gajah betina tersebut telah melahirkan Tesso, Tino, Harmoni, dan Domang.

Dengan kelahiran Nona Seroja, jumlah gajah jinak yang dirawat di Elephant Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo kini bertambah menjadi delapan ekor.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi kawasan konservasi, kehadiran Nona Seroja tidak hanya menambah populasi gajah yang dirawat di TNTN. Nama yang disematkan kepadanya juga diharapkan menjadi pengingat bahwa upaya menjaga kelestarian gajah Sumatera membutuhkan komitmen jangka panjang dari pemerintah, pengelola kawasan, dan masyarakat.

Sebagaimana bunga seroja yang mampu tumbuh di lingkungan yang tidak ideal, Nona Seroja diharapkan menjadi simbol bahwa harapan bagi konservasi gajah Sumatera tetap hidup di Tesso Nilo. (ria)