Produksi Migas Pertamina Tembus 1 Juta BOEPD, Rokan Sumbang Temuan 724 Juta Barel

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mencatat produksi minyak dan gas bumi mencapai 1,032 juta barrel setara minyak per hari (BOEPD) sepanjang 2025. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mencatat, produksi minyak dan gas bumi mencapai 1,032 juta barrel setara minyak per hari (BOEPD) sepanjang 2025. Capaian itu menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga pasokan energi nasional di tengah tantangan penurunan produksi lapangan migas yang terjadi di berbagai wilayah.

Selain mempertahankan tingkat produksi di atas satu juta BOEPD, perusahaan juga membukukan penemuan sumber daya migas baru lebih dari 1 miliar barrel setara minyak (BOE), termasuk temuan besar dari Migas Non-Konvensional (MNK) di Wilayah Kerja Rokan, Riau.

Kinerja tersebut tidak hanya berdampak pada keberlanjutan pasokan energi nasional, tetapi juga berpotensi memperkuat investasi sektor hulu migas, menjaga penerimaan negara, serta mendukung target pemerintah dalam meningkatkan ketahanan energi Indonesia dalam jangka panjang.

Direktur Utama PHE, Hermansyah mengatakan, capaian tersebut menunjukkan kemampuan perusahaan menjaga stabilitas operasi sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan masa depan.

“Pencapaian produksi lebih dari 1 juta BOEPD dan penemuan sumber daya baru lebih dari 1 miliar BOE menunjukkan komitmen PHE untuk terus menjaga ketahanan energi nasional,” ujar Hermansyah, Rabu (17/6/2026).

Produksi Minyak dan Gas Tetap Terjaga
Sepanjang 2025, produksi migas PHE mencapai 1,032 juta BOEPD yang terdiri dari produksi minyak sebesar 556 ribu barel per hari dan produksi gas mencapai 2.757 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).

Angka tersebut menjadi penting karena sektor hulu migas Indonesia masih menghadapi tantangan berupa penurunan produksi alami dari lapangan-lapangan tua yang telah beroperasi selama puluhan tahun.

Di tengah kondisi tersebut, kemampuan mempertahankan produksi di atas satu juta BOEPD menunjukkan efektivitas strategi pengelolaan aset, optimalisasi sumur eksisting, serta percepatan pengembangan lapangan yang dilakukan perusahaan.

Bagi pemerintah, stabilitas produksi migas memiliki dampak langsung terhadap ketahanan energi nasional, pengurangan ketergantungan impor energi, serta menjaga kontribusi sektor migas terhadap pendapatan negara.

Aktivitas Pengeboran Masif Dorong Produksi
Untuk menjaga tingkat produksi, PHE menjalankan berbagai program pengembangan lapangan secara agresif sepanjang tahun lalu.

Perusahaan berhasil menyelesaikan pemboran eksploitasi sebanyak 887 sumur. Selain itu, dilakukan kegiatan workover pada 1.288 sumur dan well service terhadap 37.266 sumur.

Baca Juga:  Pemprov Riau Siapkan Dua BUMD Untuk Kelola Lahan Perkebunan Sawit Agrinas

Aktivitas tersebut menunjukkan fokus perusahaan dalam meningkatkan produktivitas lapangan yang telah beroperasi serta memaksimalkan potensi cadangan yang sudah ditemukan sebelumnya.

Dalam industri hulu migas, pemboran eksploitasi dan workover merupakan faktor penting untuk mempertahankan tingkat produksi. Tanpa investasi berkelanjutan pada kegiatan tersebut, produksi nasional berisiko mengalami penurunan lebih cepat.

Karena itu, realisasi program pengeboran dalam skala besar menjadi salah satu indikator kesehatan operasional perusahaan migas nasional.

WK Rokan Jadi Penyumbang Temuan Terbesar
Selain menjaga produksi, PHE juga memperkuat kegiatan eksplorasi untuk menemukan sumber daya baru yang dapat menopang produksi di masa mendatang.

Hingga akhir 2025, perusahaan melakukan pemboran 20 sumur eksplorasi, survei seismik dua dimensi sepanjang 2.931 kilometer, serta survei seismik tiga dimensi seluas 855 kilometer persegi.

Hasilnya, PHE membukukan penemuan sumber daya kontingen (2C) sebesar 1.097,43 juta barrel setara minyak (MMBOE). Kontributor terbesar berasal dari temuan Migas Non-Konvensional di WK Rokan yang mencapai 724,22 juta barrel minyak.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena WK Rokan selama ini dikenal sebagai salah satu tulang punggung produksi minyak nasional. Penemuan sumber daya baru di wilayah tersebut membuka peluang pengembangan cadangan energi jangka panjang sekaligus memperpanjang umur produktif kawasan migas strategis tersebut.

Bagi Riau, perkembangan eksplorasi di WK Rokan juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan karena berpotensi menciptakan investasi baru, meningkatkan aktivitas industri penunjang migas, serta memperkuat kontribusi sektor energi terhadap perekonomian daerah.

Cadangan Terbukti Bertambah Lewat Akuisisi Aset
Tidak hanya melalui eksplorasi, PHE juga meningkatkan kekuatan cadangan migas melalui strategi merger dan akuisisi (M&A).

Sepanjang 2025, perusahaan mencatat tambahan cadangan terbukti (P1) sebesar 314 MMBOE. Penambahan tersebut berasal dari realisasi sejumlah transaksi korporasi, termasuk kontribusi aset internasional di Aljazair melalui proyek MLN Phase 5 yang berada di Blok 405a.

Langkah ini menunjukkan strategi PHE tidak hanya bertumpu pada eksplorasi domestik, tetapi juga memperluas portofolio aset di luar negeri untuk memperkuat ketahanan bisnis dan cadangan energi perusahaan.

Dalam industri migas global, peningkatan cadangan terbukti menjadi indikator penting karena mencerminkan kemampuan perusahaan menjaga keberlanjutan produksi dalam jangka panjang.

Baca Juga:  BMKG Prakirakan Hujan Lebat Disertai Petir Berpotensi Melanda 5 Daerah di Riau

“Kinerja ini mencerminkan upaya berkelanjutan perusahaan dalam meningkatkan produksi sekaligus memperkuat cadangan dan sumber daya untuk mendukung pertumbuhan di masa depan,” kata Hermansyah.

Laba Tembus US$2,17 Miliar
Kinerja operasional dan eksplorasi yang positif turut tercermin pada aspek keuangan perusahaan.

Sepanjang 2025, PHE membukukan laba bersih sebesar US$2,175 miliar. Kontribusi tersebut berasal dari seluruh entitas afiliasi yang berada di bawah naungan perusahaan, mulai dari Regional 1 Sumatera, Regional 2 Jawa, Regional 3 Kalimantan, Regional 4 Jawa Timur dan Indonesia Timur, Regional 5 Internasional, hingga perusahaan pendukung seperti Elnusa, Badak LNG, dan Pertamina Drilling Service Indonesia.

Pencapaian laba tersebut memperlihatkan bahwa sektor hulu migas masih menjadi salah satu penopang penting kinerja grup Pertamina sekaligus memberikan kontribusi terhadap penerimaan negara dan stabilitas sektor energi nasional.

Tantangan Ketahanan Energi
Meski mencatat capaian positif, tantangan sektor energi nasional masih cukup besar. Kebutuhan energi Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk.

Di sisi lain, banyak lapangan migas domestik memasuki fase penurunan produksi alami sehingga membutuhkan investasi eksplorasi yang lebih agresif untuk menemukan sumber daya baru.

Karena itu, keberhasilan menemukan lebih dari 1 miliar BOE sumber daya baru pada 2025 menjadi sinyal penting bagi keberlanjutan industri migas nasional.

Ke depan, PHE menyatakan akan terus mendorong penerapan teknologi, inovasi eksplorasi, serta pengembangan cadangan dan sumber daya baru guna mendukung target produksi nasional dan memperkuat ketahanan energi Indonesia.

Bagi Riau, keberhasilan eksplorasi di WK Rokan menjadi salah satu perkembangan strategis yang patut diperhatikan. Selain berpotensi menjaga posisi daerah sebagai pusat industri migas nasional, temuan baru tersebut juga dapat membuka peluang investasi dan aktivitas ekonomi yang lebih besar dalam beberapa tahun mendatang. (kpc)