ROKAN HILIR, FOKUSRIAU.COM-Cuaca cerah yang berubah drastis hanya dalam hitungan menit dan nyaris merenggut nyawa dua nelayan tradisional di perairan Suak Nipah, Pulau Halang, Kecamatan Kubu, Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Angin puting beliung datang bersama gelombang tinggi, Minggu (5/7/2026) sekitar pukul 14.00 WIB menghancurkan dua boat nelayan.
Kedua nelayan yang mengalami musibah Suroso (53), warga Kepenghuluan Sungai Kubu Hulu dan Bukhori (53), warga Kepenghuluan Sungai Kubu. Keduanya berhasil menyelamatkan diri, meski boat mereka rusak.
Menurut keterangan korban, sebelum kejadian tidak ada tanda-tanda cuaca buruk. Langit masih terlihat cerah saat mereka mencari ikan di sekitar Pulau Halang.
Namun situasi berubah sangat cepat. Awan gelap datang disertai angin berkecepatan tinggi yang memicu gelombang besar di tengah laut.
Selama sekitar 15 menit, kedua boat terombang-ambing diterjang ombak. Upaya mengarahkan perahu menuju daratan tidak berjalan mudah karena kuatnya hembusan angin yang terus menyeret boat ke arah pantai.
“Angin datang begitu cepat tanpa ada tanda-tanda. Dalam hitungan menit cuaca berubah gelap seperti malam dan ombak besar langsung menghantam boat kami. Kami berusaha menyelamatkan diri dengan mengarahkan boat ke tepi pantai, tetapi tetap terseret angin hingga akhirnya terdampar,” ungkap Bukhori.
Dampak paling berat dialami boat milik Suroso berukuran sekitar 3 GT. Badan boat terbelah dua akibat kuatnya hantaman ombak sehingga tidak mungkin lagi digunakan untuk melaut.
Sementara boat milik Bukhori berukuran sekitar 4 GT karam. Meski demikian, kondisi boat tersebut masih memungkinkan diperbaiki.
Bukhori memperkirakan, total kerugian yang dialami mereka mencapai ratusan juta rupiah.
“Boat pak Suroso hancur terbelah dua dan tidak bisa diselamatkan. Boat saya memang karam, tetapi masih ada harapan untuk diperbaiki. Kerugian yang kami alami diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah,” katanya.
Musibah itu membuat kedua nelayan kehilangan alat produksi utama. Tanpa boat, mereka tidak dapat kembali melaut untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Karena itu, mereka berharap adanya perhatian dari Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir, khususnya Dinas Perikanan dan Kelautan, agar dapat membantu penyediaan atau perbaikan sarana melaut.
“Boat adalah satu-satunya alat kami mencari rezeki. Kami berharap ada perhatian dan bantuan dari pemerintah supaya bisa kembali bekerja dan menghidupi keluarga,” ujar Bukhori.
Datuk Penghulu Sungai Kubu, Bulkrim mengatakan, seluruh nelayan berhasil selamat sehingga tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun, kerusakan boat yang dialami para korban tergolong sangat besar.
Ia juga mengingatkan para nelayan untuk selalu memprioritaskan keselamatan saat melaut dengan memperhatikan perkembangan kondisi cuaca.
“Alhamdulillah seluruh nelayan selamat. Namun kerugian yang dialami sangat besar karena ada boat yang terbelah dua dan ada yang karam. Kami juga mengimbau seluruh nelayan agar selalu mengutamakan keselamatan serta memperhatikan kondisi cuaca sebelum melaut,” tuturnya.
Peristiwa di Pulau Halang menunjukkan bahwa perubahan cuaca ekstrem dapat terjadi dalam waktu singkat dan membawa risiko besar bagi nelayan tradisional. Selain mengancam keselamatan, bencana tersebut juga berdampak pada keberlangsungan mata pencaharian masyarakat pesisir yang bergantung pada aktivitas penangkapan ikan setiap hari. (rom)






