Ekspor Sawit Melonjak 28 Persen, Stok Menyusut, Harga CPO Berpeluang Naik

Ekspor sawit kini mengalami kenaikan 28 persen ditengah menyusutnya stok. (Foto: Bisnis.com)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat, ekspor produk sawit Indonesia bulan April 2026 melonjak 28,09 persen, dibanding bulan sebelumnya. Saat yang sama, konsumsi dalam negeri juga terus meningkat, terutama dari sektor biodiesel yang menyerap pasokan lebih besar.

Kombinasi kedua faktor tersebut, membuat stok nasional mulai terkikis meski produksi masih bertumbuh. Bagi daerah penghasil sawit seperti Riau, perkembangan tersebut menjadi indikator penting. Permintaan global yang kembali menguat berpotensi menjaga harga tandan buah segar (TBS), meningkatkan penerimaan devisa, memperkuat aktivitas industri pengolahan, hingga mendorong perputaran ekonomi di sentra perkebunan kelapa sawit.

Sepanjang April 2026, produksi crude palm oil mencapai 4,48 juta ton atau naik 1,73 persen dibandingkan Maret yang sebesar 4,40 juta ton. Produksi palm kernel oil (PKO) memang turun tipis menjadi 416 ribu ton dari sebelumnya 424 ribu ton, namun secara keseluruhan produksi CPO dan PKO tetap meningkat menjadi 4,90 juta ton.

Kinerja tersebut memperkuat tren positif sepanjang tahun ini. Selama Januari hingga April 2026, total produksi minyak sawit nasional mencapai 20,46 juta ton atau meningkat 13,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 18,03 juta ton.

Meski produksi meningkat cukup signifikan, pasokan tambahan tersebut langsung terserap pasar. Permintaan domestik masih menunjukkan pertumbuhan yang solid, sementara pasar ekspor kembali mencatat kenaikan cukup tajam setelah beberapa bulan bergerak lebih moderat.

Data Gapki mencatat, konsumsi minyak sawit nasional sepanjang April mencapai 2,14 juta ton atau naik 1,23 persen dibandingkan Maret yang sebesar 2,11 juta ton.

Kontributor terbesar berasal dari program biodiesel. Konsumsi biodiesel meningkat 7,67 persen menjadi 1,13 juta ton. Kenaikan ini memperlihatkan bahwa implementasi mandatori biodiesel terus menjadi penopang utama permintaan domestik terhadap minyak sawit.

Selain biodiesel, industri oleokimia juga memperlihatkan pertumbuhan positif. Konsumsi sektor tersebut meningkat 6,79 persen menjadi 173 ribu ton.

Sebaliknya, konsumsi minyak sawit untuk kebutuhan pangan mengalami penurunan menjadi 831 ribu ton dari sebelumnya 897 ribu ton atau turun 7,36 persen. Meski demikian, secara kumulatif konsumsi domestik selama Januari-April tetap meningkat 6,06 persen menjadi 8,66 juta ton.

Baca juga:  Direktur Baru BSP Langsung Diuji, Bupati Siak Targetkan Pembenahan dan Kenaikan Produksi

Di pasar internasional, pemulihan permintaan berlangsung lebih kuat. Volume ekspor produk sawit Indonesia selama April mencapai 2,77 juta ton, melonjak dari 2,168 juta ton pada Maret.

Peningkatan terjadi hampir pada seluruh kelompok produk. Ekspor minyak sawit olahan naik menjadi 2,04 juta ton dari sebelumnya 1,50 juta ton. Pengiriman CPO meningkat menjadi 153 ribu ton dibandingkan 96 ribu ton pada bulan sebelumnya.

Ekspor produk oleokimia juga bertambah menjadi 486 ribu ton dari 468 ribu ton, sedangkan ekspor minyak inti sawit olahan meningkat menjadi 97 ribu ton dibandingkan 94 ribu ton.

Secara kumulatif, ekspor selama empat bulan pertama 2026 mencapai 11,32 juta ton atau tumbuh 20,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Permintaan terbesar masih datang dari sejumlah pasar utama Indonesia seperti China, India, kawasan Afrika, Timur Tengah, Bangladesh, Pakistan, Amerika Serikat, serta Uni Eropa.

Sebaliknya, ekspor menuju Rusia dan Malaysia tercatat mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan volume ekspor tersebut langsung tercermin pada nilai perdagangan luar negeri. Nilai ekspor produk sawit Indonesia pada April mencapai US$3,38 miliar, meningkat hampir 30 persen dibandingkan Maret yang sebesar US$2,61 miliar.

Selama Januari-April 2026, total nilai ekspor mencapai US$13,04 miliar atau meningkat 20,52 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$10,82 miliar.

Peningkatan tersebut tidak hanya didorong bertambahnya volume ekspor, tetapi juga oleh harga jual yang lebih tinggi. Rata-rata harga minyak sawit selama Januari-April 2026 mencapai US$1.408 per ton CIF Rotterdam, jauh di atas rata-rata periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$1.211 per ton.

Di sisi lain, meningkatnya konsumsi domestik dan ekspor mulai memengaruhi posisi stok nasional.

Dengan stok awal April sebesar 2,56 juta ton, total produksi 4,90 juta ton, konsumsi domestik 2,14 juta ton, dan ekspor 2,77 juta ton, maka stok akhir April tercatat sebesar 2,55 juta ton.

Baca juga:  Bupati Afni Bawa Direktur Baru Temui Arwin AS, Titip Harapan BSP Kembali Dongkrak Pendapatan Siak

Penurunan stok memang relatif tipis, namun perubahan arah ini menjadi perhatian pelaku industri karena menunjukkan pasokan mulai bergerak lebih ketat dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.

Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi faktor penyangga harga CPO apabila tren permintaan terus berlanjut, sementara produksi menghadapi tekanan akibat perubahan cuaca.

Risiko tersebut semakin relevan mengingat sejumlah lembaga iklim memperkirakan potensi cuaca kering yang dipengaruhi fenomena El Niño dapat mulai terasa pada paruh kedua 2026. Jika produksi melambat sementara konsumsi biodiesel tetap tinggi dan ekspor terus meningkat, maka keseimbangan pasar diperkirakan akan semakin ketat.

Bagi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, kondisi tersebut berpotensi memberikan manfaat ekonomi melalui peningkatan devisa ekspor dan menjaga pendapatan sektor perkebunan. Di wilayah sentra produksi seperti Riau, Sumatera Utara, Kalimantan, hingga Sumatera Selatan, stabilnya harga CPO juga dapat menjadi penopang aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada industri sawit.

Namun demikian, pasar tetap menghadapi sejumlah tantangan. Selain faktor cuaca, dinamika ekonomi global, kebijakan perdagangan negara tujuan ekspor, serta perkembangan program energi berbasis biodiesel di dalam negeri akan menjadi faktor utama yang menentukan arah industri sawit Indonesia pada sisa tahun 2026.

Dengan produksi yang masih bertumbuh, permintaan domestik yang terus meningkat, ekspor yang kembali menguat, serta stok nasional yang mulai menyusut, industri sawit Indonesia memasuki periode ketika keseimbangan pasar semakin ketat.

Situasi tersebut menjadi modal penting bagi prospek harga CPO dalam jangka menengah sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok utama minyak sawit di pasar global. (bic)