Produksi CPO Turun 7,1 Persen, Stok Minyak Sawit Nasional Mei 2026 Naik

Gapki mencatat ekspor dan konsumsi melemah, sehingga stok minyak sawit meningkat. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia, mengalami penurunan sepanjang Mei 2026. Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan melemahnya konsumsi domestik dan ekspor, sehingga mendorong kenaikan stok minyak sawit nasional menembus 3,04 juta ton.

Data terbaru Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menunjukkan, produksi CPO sepanjang Mei 2026 mencapai 4,16 juta ton atau turun 7,1 persen dibandingkan April 2026 yang mencapai 4,48 juta ton.

Direktur Eksekutif Gapki, Mukti Sardjono mengatakan, penurunan juga terjadi pada produksi minyak inti sawit atau palm kernel oil (PKO).

Produksi PKO tercatat sebesar 387 ribu ton pada Mei, lebih rendah dibandingkan April yang mencapai 424 ribu ton.

“Dengan demikian, total produksi CPO dan PKO pada Mei 2026 mencapai 4,55 juta ton, turun 7,16 persen dibandingkan April sebesar 4,90 juta ton,” ujar Mukti dalam keterangan resmi, Rabu (15/7/2026).

Meski secara bulanan mengalami koreksi, produksi minyak sawit nasional sepanjang Januari hingga Mei 2026 masih menunjukkan pertumbuhan.

Gapki mencatat, total produksi CPO dan PKO selama lima bulan pertama tahun ini mencapai 25,01 juta ton atau meningkat 10,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 22,60 juta ton.

Dari sisi konsumsi, penggunaan minyak sawit di dalam negeri juga mengalami penurunan. Total konsumsi domestik pada Mei 2026 tercatat sebesar 2,08 juta ton atau turun 2,98 persen dibandingkan April yang mencapai 2,14 juta ton.

Baca juga:  Harga Sawit Riau Kembali Naik, TBS Petani Tembus Rp3.832/Kg

Penurunan terbesar berasal dari sektor biodiesel. Konsumsi biodiesel turun menjadi 1,04 juta ton dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 1,14 juta ton. Sebaliknya, konsumsi minyak sawit untuk kebutuhan pangan meningkat menjadi 856 ribu ton dari sebelumnya 831 ribu ton.

Konsumsi sektor oleokimia juga naik menjadi 187 ribu ton dibandingkan April sebesar 173 ribu ton.

Secara kumulatif Januari-Mei 2026, konsumsi domestik mencapai 10,74 juta ton atau meningkat 5,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 10,20 juta ton.

Selain produksi dan konsumsi, kinerja ekspor minyak sawit juga mengalami pelemahan cukup tajam.

Gapki mencatat, total ekspor produk sawit pada Mei 2026 hanya mencapai 2 juta ton atau turun 28,14 persen dibandingkan April yang mencapai 2,78 juta ton.

Penurunan terjadi hampir di seluruh kelompok produk. Ekspor produk olahan minyak sawit turun menjadi 1,42 juta ton dari sebelumnya 2,04 juta ton atau turun 30,26 persen.

Sementara ekspor CPO merosot tajam menjadi hanya 31 ribu ton dibandingkan April yang mencapai 153 ribu ton atau turun hampir 80 persen.

Ekspor produk olahan minyak inti sawit juga turun menjadi 55 ribu ton dibandingkan sebelumnya 97 ribu ton.

Baca juga:  Buyback Emas Antam Anjlok Rp43.000, Harga Emas Bertahan di Rp2,615 Juta

Meski demikian, secara kumulatif Januari-Mei 2026, ekspor produk sawit Indonesia masih mencapai 13,32 juta ton atau meningkat 10,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 12,08 juta ton.

Turunnya produksi, konsumsi domestik, dan ekspor secara bersamaan pada Mei berdampak pada meningkatnya stok minyak sawit nasional.

Dengan stok awal tahun sebesar 2,06 juta ton, total produksi selama Januari-Mei sebesar 25,01 juta ton, konsumsi domestik kumulatif 10,74 juta ton, ekspor 13,32 juta ton, serta impor sebesar 24 ribu ton, stok akhir minyak sawit Indonesia hingga Mei 2026 tercatat mencapai 3,04 juta ton.

Kenaikan stok tersebut menjadi indikator penting bagi pelaku industri karena dapat memengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan di pasar domestik maupun internasional.

Bagi daerah sentra sawit seperti Riau, perkembangan produksi, ekspor, dan stok nasional menjadi perhatian karena berpengaruh terhadap dinamika industri sawit, perdagangan dan aktivitas ekonomi yang bergantung pada komoditas tersebut. (bis)