Gambut Terbakar Tak Sekadar Hangus, Ini yang Menentukan Bisa Pulih atau Tidak

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) gambut tak hanya menghanguskan vegetasi, tapi menghancurkan ekosistem gambut. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Kebakaran di lahan gambut tidak berhenti ketika kobaran api padam. Di balik permukaan tanah yang tampak menghitam, api bisa merambat ke lapisan gambut dan meninggalkan dampak yang lebih panjang terhadap kemampuan ekosistem untuk pulih.

Karakter tersebut membuat kebakaran gambut berbeda dengan kebakaran pada lahan mineral. Api dapat bergerak secara horizontal sekaligus menembus lapisan gambut secara vertikal.

Pakar kebakaran hutan dan lahan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Fiqri Ardiansyah menjelaskan, tingkat keparahan kebakaran menjadi salah satu faktor yang menentukan kemampuan gambut melakukan regenerasi secara alami.

Informasi tersebut disampaikan Fiqri melalui laman resmi UGM dan dikutip, Jumat (4/9/2026).

Api Bisa Merusak Sumber Regenerasi Gambut
Menurut Fiqri, semakin parah kebakaran yang terjadi, semakin besar pula ancaman terhadap sumber kehidupan tumbuhan di dalam ekosistem gambut.

Salah satu yang terdampak adalah seed bank atau bank benih. Sumber benih yang berada di dalam tanah dapat rusak bahkan hilang apabila gambut terbakar dengan intensitas tinggi.

Kondisi tersebut membuat proses pemulihan kawasan tidak selalu berlangsung dengan cepat.

Kebakaran juga dapat mengubah karakter tanah gambut, baik dari sisi fisik, kimia, maupun biologis. Perubahan itu kemudian memengaruhi jenis tumbuhan yang mampu tumbuh kembali setelah kebakaran.

Artinya, lahan yang terlihat kembali hijau setelah terbakar belum tentu telah kembali ke kondisi ekosistem sebelumnya.

Pohon di Sekitar Kawasan Ikut Menentukan
Kemampuan gambut untuk melakukan regenerasi juga dipengaruhi keberadaan pohon induk di sekitar lokasi kebakaran.

Pohon-pohon tersebut dapat menjadi sumber benih baru. Benih bisa jatuh secara alami, dibawa satwa, atau berpindah melalui aliran air.

Karena itu, kondisi kawasan sebelum kebakaran ikut menentukan proses pemulihan. Tingkat kerusakan yang ditimbulkan api, ketersediaan sumber benih, serta keberadaan vegetasi di sekitar lokasi menjadi bagian dari rangkaian proses tersebut.

Persoalannya menjadi lebih rumit ketika kebakaran terjadi berulang pada lokasi yang sama.

Kebakaran Berulang di Konsesi Perlu Ditelusuri
Fiqri menilai, kebakaran yang berulang di satu lokasi, termasuk kawasan konsesi, perlu mendapat perhatian lebih serius.

Pengulangan kejadian dapat menjadi tanda adanya persoalan yang belum terselesaikan dalam pengelolaan kawasan. Karena itu, penyebab setiap kejadian perlu ditelusuri, termasuk kemungkinan adanya kelalaian atau persoalan dalam pengelolaan lahan.

Akses manusia juga disebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.

Kawasan yang mudah dimasuki manusia memiliki peluang lebih besar terpapar sumber api yang berasal dari aktivitas manusia. Pola kebakaran yang terus muncul di area dengan akses tinggi dapat menjadi petunjuk yang perlu dikaji dalam upaya mencari penyebabnya.

Pendekatan semacam ini membuat penanganan karhutla tidak cukup hanya melihat titik api. Pola ruang, aktivitas manusia dan kondisi kawasan juga perlu dibaca secara bersamaan.

Risiko kebakaran meningkat ketika kadar air gambut menurun. Fenomena seperti El Niño dan musim kemarau bukan penyebab langsung munculnya api. Namun, kondisi tersebut dapat membuat bahan bakar alami di kawasan gambut menjadi jauh lebih kering sehingga lebih mudah terbakar.

Curah hujan yang menurun dan suhu yang meningkat membuat vegetasi kehilangan kelembapannya. Risiko tersebut semakin besar pada gambut yang telah mengalami degradasi dan tidak lagi mampu menyimpan air dengan baik.

Fiqri menjelaskan bahwa hubungan cuaca dengan kebakaran terutama terlihat dari perubahan kondisi bahan bakar. Ketika suhu meningkat dan hujan berkurang, bahan bakar menjadi lebih kering dan rentan tersulut.

Karena itu, menjaga gambut tetap basah menjadi salah satu langkah utama untuk mengurangi risiko kebakaran.

Tata Air Menjadi Kunci Pencegahan
Pengelolaan tata air memiliki posisi strategis dalam perlindungan gambut.

Pengeringan akibat pengambilan air berlebihan maupun keberadaan kanal yang menyebabkan air keluar dari kawasan dapat menurunkan kelembapan gambut. Ketika kondisi tersebut berlangsung, lahan menjadi lebih mudah terbakar saat memasuki periode kering.

Pengelolaan kawasan perlu diarahkan agar karakter alami gambut sebagai ekosistem yang basah tetap terjaga.

Pemilihan tanaman yang mampu beradaptasi dengan kondisi lahan tergenang juga dapat dilakukan. Langkah ini tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan lahan, tetapi juga menjaga fungsi ekologis kawasan gambut.

Pencegahan Karhutla Perlu Berdasarkan Peta Risiko
Penanganan kebakaran juga dapat dimulai sebelum api muncul. Menurut Fiqri, pola hotspot dapat digunakan untuk membantu menentukan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi. Data tersebut kemudian dapat menjadi dasar untuk menentukan lokasi yang membutuhkan pengawasan dan pencegahan lebih intensif.

Di kawasan gambut yang sudah mengalami kekeringan, misalnya, upaya pembasahan kembali dapat dilakukan. Pemblokiran kanal juga dapat menjadi bagian dari langkah mempertahankan kelembapan gambut.

Namun, peta risiko tidak cukup jika hanya berisi data lingkungan.

Aktivitas masyarakat, akses menuju kawasan, potensi konflik, hingga pelaksanaan kebijakan perlu masuk dalam analisis. Hubungan antara kondisi bahan bakar dan aktivitas sosial di sekitar kawasan dapat memengaruhi pola terjadinya kebakaran.

Dengan membaca faktor-faktor tersebut secara bersamaan, upaya pencegahan dapat diarahkan ke lokasi dan persoalan yang lebih spesifik.

Masyarakat Jadi Bagian dari Sistem Pencegahan
Pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan rawan.

Pemahaman mengenai sistem peringatan dini, pengendalian penggunaan api, patroli serta pemantauan kawasan dapat diperkuat. Masyarakat juga dapat menjadi bagian dari sistem deteksi awal ketika muncul indikasi kebakaran.

Strateginya tidak harus sama untuk setiap wilayah. Kawasan dengan gambut sangat kering membutuhkan pendekatan berbeda dengan wilayah yang masih memiliki tutupan vegetasi dan tata air relatif baik.

Begitu pula daerah yang memiliki aktivitas manusia tinggi membutuhkan pola pengawasan berbeda.

Karhutla gambut pada akhirnya bukan hanya persoalan bagaimana memadamkan api. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana menjaga gambut tetap basah, mengurangi sumber pemicu, memahami aktivitas manusia di sekitarnya, serta memastikan kawasan mampu bertahan dari ancaman kebakaran berulang.

Dengan pendekatan berbasis risiko tersebut, pencegahan dapat dilakukan sebelum titik api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas dan merusak kemampuan alami gambut untuk pulih. (bsh)