Hadapi Ancaman Karhutla, Dua Helikopter Water Bombing Tambahan Tiba di Pekanbaru

Helikopter tipe Sikorsky S-61A dengan nomor registrasi N5193Y mendarat di Pekanbaru. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Upaya Provinsi Riau menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masuki babak baru. Di tengah meningkatnya kewaspadaan menghadapi musim kemarau, dua helikopter water bombing tambahan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Minggu (7/6/2026) tiba di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru.

Tambahan armada terdiri dari helikopter tipe Sikorsky dan Black Hawk yang akan memperkuat operasi pemadaman di wilayah rawan kebakaran. Dengan masuknya dua unit baru tersebut, jumlah helikopter yang disiagakan untuk penanganan karhutla di Riau kini mencapai lima unit, terdiri dari empat helikopter water bombing dan satu helikopter patroli.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau, M Edy Afrizal mengatakan, seluruh armada telah berada di Pekanbaru dan siap mendukung operasi penanganan karhutla.

“Provinsi Riau kembali mendapatkan bantuan berupa dua unit helikopter water bombing dari BNPB. Saat ini kedua helikopter tersebut sudah berada di Pekanbaru,” ujarnya.

Menurut Edy, keberadaan armada tambahan tersebut sangat penting mengingat karakteristik wilayah Riau yang memiliki hamparan lahan gambut luas. Pada banyak kasus, titik api muncul di lokasi terpencil yang sulit dijangkau kendaraan dan personel darat. Dalam kondisi seperti itu, helikopter water bombing menjadi salah satu alat paling efektif untuk mempercepat proses pemadaman.

Baca Juga:  Harga Emas Antam Turun Rp61.000 Sepekan, Investor Kini Hadapi Dilema Beli Atau Jual

Tidak hanya berfungsi menjatuhkan ribuan liter air ke area terbakar, operasi udara juga mampu menekan perluasan api sebelum merambat ke kawasan yang lebih luas. Strategi ini dinilai penting karena karhutla di lahan gambut sering kali sulit dideteksi dan dapat menyala kembali meski api di permukaan terlihat padam.

“Helikopter water bombing ini akan kami gunakan untuk memadamkan karhutla di lokasi yang sulit dijangkau tim darat. Sehingga pemadaman dapat dilakukan lebih cepat sebelum api meluas,” kata Edy.

Kehadiran armada tambahan tersebut juga menjadi bagian dari strategi mitigasi dini yang terus diperkuat pemerintah daerah bersama BNPB, TNI, Polri, Manggala Agni dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi lintas lembaga dinilai menjadi kunci keberhasilan Riau dalam menekan luas area terbakar dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga:  Rupiah Tembus Rp18.110 per Dolar AS, Tekan Dunia Usaha dan Biaya Impor di Riau

Sebagai salah satu provinsi yang pernah menghadapi bencana asap berskala nasional, Riau memiliki pengalaman panjang dalam penanganan karhutla. Karena itu, kesiapan sarana dan prasarana sebelum puncak musim kemarau menjadi faktor penting untuk menghindari dampak yang lebih besar terhadap kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, transportasi, hingga lingkungan hidup.

Selain operasi pemadaman, pemerintah juga terus mendorong patroli udara dan pengawasan lapangan untuk mendeteksi titik panas sejak dini. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat respons petugas sekaligus mencegah kebakaran berkembang menjadi bencana yang sulit dikendalikan.

Dengan bertambahnya kekuatan armada udara, Riau kini memiliki modal yang lebih kuat untuk menghadapi musim kemarau 2026. Tantangan karhutla memang belum berakhir, namun kesiapsiagaan yang terus ditingkatkan menjadi bukti bahwa perlindungan terhadap masyarakat dan lingkungan tetap menjadi prioritas utama. (mcr)