Milenial Kian Menyerah Beli Rumah, Indonesia Masuk Negara dengan Hunian Paling Tak Terjangkau di Dunia

Ilustrasi rumah subsidi di Pekanbaru. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Kepemilikan rumah semakin menjadi impian yang sulit dijangkau generasi muda. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, tetapi juga di Indonesia yang kini masuk dalam daftar negara dengan harga hunian paling tidak terjangkau di dunia.

Fenomena tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi keluarga, daya beli masyarakat, hingga pertumbuhan sektor properti.

Survei Home Affordability Survey 2025 yang dilakukan Bankrate menunjukkan, satu dari enam calon pembeli rumah di Amerika Serikat menyerah mencari rumah yang sesuai kemampuan finansial mereka selama lima tahun terakhir.

Kondisi tersebut dipicu kombinasi harga rumah yang tinggi, keterbatasan pasokan, serta suku bunga kredit pemilikan rumah yang masih mahal. “Keterjangkauan rumah di AS berada di level terburuk dalam beberapa dekade,” kata analis keuangan Bankrate, Stephen Kates.

Menurut survei tersebut, kelompok yang paling terdampak adalah milenial. Sebanyak 22 persen responden dari generasi ini mengaku telah menyerah untuk memiliki rumah. Angka itu lebih tinggi dibanding Generasi X sebesar 17 persen, Generasi Z 12 persen, dan baby boomer 12 persen.

Meski survei tersebut dilakukan di Amerika Serikat, tantangan serupa juga terjadi di Indonesia. Laporan terbaru The Economist menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat keterjangkauan rumah terburuk keenam di dunia. Posisi Indonesia berada di bawah Filipina, Sri Lanka, Thailand, India dan Korea Selatan.

Baca Juga:  BMKG Minta Riau Waspada Karhutla: Meski Diguyur Hujan, 13 Hotspot Muncul di Rokan Hilir

Indikator utama yang digunakan adalah perbandingan antara harga rumah dan pendapatan masyarakat. Semakin besar jaraknya, semakin sulit masyarakat membeli rumah.

Masalahnya tidak hanya terletak pada mahalnya harga properti. Kenaikan harga rumah berlangsung lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan warga. Di sisi lain, pasokan hunian belum mampu mengimbangi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat.

Dampak bagi Masyarakat
Kondisi tersebut dapat memunculkan konsekuensi sosial dan ekonomi yang luas. Generasi muda yang kesulitan membeli rumah berpotensi menunda pernikahan, menunda pembentukan keluarga, atau memilih tetap tinggal bersama orang tua lebih lama. Beban biaya sewa juga dapat mengurangi kemampuan menabung dan berinvestasi.

Dalam jangka panjang, rendahnya tingkat kepemilikan rumah dapat memperlemah akumulasi aset rumah tangga. Padahal, rumah selama ini menjadi salah satu instrumen kekayaan utama bagi keluarga kelas menengah.

Untuk Riau, isu keterjangkauan rumah menjadi perhatian penting, karena berkaitan langsung dengan pertumbuhan kawasan perkotaan seperti Pekanbaru dan daerah penyangga industri maupun perkebunan.

Baca Juga:  Harga TBS Sawit Riau Anjlok 11,79 Persen, Petani Kehilangan Rp437 per Kilogram

Pertumbuhan sektor sawit, migas, perdagangan dan jasa mendorong urbanisasi serta peningkatan kebutuhan hunian. Namun jika harga rumah terus meningkat lebih cepat dibanding pendapatan masyarakat, akses generasi muda terhadap kepemilikan rumah akan semakin sulit.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi sektor properti daerah, konsumsi rumah tangga, hingga daya beli masyarakat. Dalam jangka panjang, tantangan perumahan juga dapat memengaruhi kualitas hidup tenaga kerja produktif yang menjadi penggerak ekonomi Riau.

Bagi dunia usaha, keterjangkauan hunian juga berkaitan dengan kemampuan perusahaan menarik dan mempertahankan tenaga kerja. Semakin tinggi biaya tempat tinggal, semakin besar tekanan terhadap kebutuhan kenaikan upah dan biaya hidup pekerja.

Sejumlah faktor akan menentukan arah pasar perumahan dalam beberapa tahun mendatang. Di antaranya kebijakan pemerintah terkait penyediaan rumah rakyat, suku bunga kredit perumahan, ketersediaan lahan, serta pertumbuhan pendapatan masyarakat.

Jika kesenjangan antara harga rumah dan pendapatan terus melebar, risiko meningkatnya generasi yang tidak mampu memiliki hunian sendiri akan semakin besar. Sebaliknya, peningkatan pasokan rumah terjangkau dan akses pembiayaan yang lebih mudah dapat menjadi kunci untuk menjaga peluang kepemilikan rumah bagi generasi muda, termasuk di Riau. (cnbc)

Tinggalkan Balasan