Periksa 43 PKS di Riau, Polda Temukan Harga TBS Sawit Sudah Kembali Normal

Direktur Reskrimsus Polda Riau, Kombes Pol Ade Kuncoro Ridwan. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Kekhawatiran terhadap potensi penurunan harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di Provinsi Riau mulai mereda. Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Riau memastikan harga TBS di tingkat pabrik kelapa sawit (PKS) saat ini kembali berada dalam kondisi normal dengan rata-rata mencapai Rp3.167 per kilogram.

Kepastian tersebut menjadi penting, karena harga TBS sawit merupakan faktor utama yang menentukan pendapatan ratusan ribu petani sawit di Riau. Stabilitas harga juga berpengaruh langsung terhadap perputaran ekonomi daerah mengingat sektor perkebunan sawit merupakan salah satu penopang utama perekonomian provinsi ini.

Hasil pemantauan menunjukkan, mayoritas PKS di Riau kini membeli TBS petani dengan harga di atas Rp3.000 per kilogram. Kondisi tersebut memberikan sinyal positif bagi petani setelah sebelumnya muncul perhatian dari pemerintah pusat terkait kemungkinan terjadinya penurunan harga di sejumlah daerah.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau, Kombes Pol Ade Kuncoro mengatakan, pemantauan dilakukan sebagai tindak lanjut atas Surat Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor B-134/RC.020/M/06/2026 tertanggal 9 Juni 2026 yang meminta pengawasan terhadap perkembangan harga TBS sawit.

Menurut Ade, pihaknya tidak hanya melakukan pengecekan terhadap 22 PKS yang tercantum dalam surat Kementerian Pertanian, tetapi memperluas pengawasan hingga mencakup 43 PKS yang tersebar di berbagai wilayah Riau.

“Ada 22 PKS yang masuk dalam surat Kementerian Pertanian. Dan kami sudah melakukan pengecekan terhadap seluruh PKS tersebut. Bahkan kami melakukan pengecekan terhadap 43 PKS,” kata Ade Kuncoro, Kamis (11/6/2026) di Pekanbaru.

Pemantauan lapangan dilakukan, Rabu (10/6/2026) dengan menyasar PKS yang berada di 12 kabupaten dan kota. Tim melakukan verifikasi langsung terhadap harga pembelian TBS yang diterapkan masing-masing perusahaan guna memastikan kondisi pasar yang sebenarnya di tingkat petani.

Harga TBS Tertinggi Capai Rp3.660 per Kilogram
Dari hasil pengecekan yang dilakukan, harga pembelian TBS tertinggi ditemukan di PT MPS yang berada di Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan.

Baca Juga:  22 PKS di Riau Dilaporkan ke Polisi, Diduga Mainkan Harga TBS Sawit Petani

Perusahaan tersebut tercatat membeli TBS petani dengan harga mencapai Rp3.660 per kilogram. Angka tersebut jauh berada di atas batas psikologis Rp3.000 per kilogram yang selama ini menjadi perhatian petani sawit.

Temuan ini menunjukkan bahwa sejumlah PKS masih memiliki kemampuan menyerap hasil panen petani dengan harga kompetitif seiring masih kuatnya permintaan industri pengolahan kelapa sawit.

Tingginya harga di beberapa wilayah juga menjadi indikator bahwa pasar sawit di Riau masih bergerak relatif sehat meskipun terdapat dinamika harga di tingkat global maupun nasional.

Sementara itu, harga TBS terendah ditemukan di PT Meskom Agrosarimas yang berada di Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, yakni sebesar Rp2.720 per kilogram.

Meski berada di bawah angka Rp3.000 per kilogram, Polda Riau memastikan kondisi tersebut bukan disebabkan oleh praktik penetapan harga yang merugikan petani.

Hasil klarifikasi kepada pihak perusahaan menunjukkan rendahnya harga dipengaruhi oleh kualitas rendemen buah yang diterima pabrik.

Rendemen merupakan ukuran kandungan minyak yang terdapat dalam buah sawit. Semakin tinggi rendemen, semakin besar nilai ekonominya sehingga harga pembelian yang diberikan pabrik juga cenderung lebih tinggi.

“Bengkalis sudah klarifikasi, untuk harga yang di bawah Rp3.000 karena kualitas rendemennya rendah,” ujar Ade.

Penjelasan tersebut menjadi penting untuk menghindari kesimpulan bahwa seluruh penurunan harga di lapangan selalu disebabkan faktor tata niaga atau kebijakan perusahaan. Dalam industri sawit, kualitas buah menjadi salah satu faktor utama yang menentukan harga jual.

Melindungi Petani Sawit
Polda Riau menilai hasil pemantauan saat ini menunjukkan kondisi pasar yang relatif stabil. Mayoritas pabrik telah membeli TBS pada kisaran harga yang dianggap wajar sesuai kondisi pasar.

“Untuk daerah lain selain Bengkalis, harga TBS sudah berada di batas Rp3.000 per kilogram. Minggu ini, hasil pantauan kami harga TBS di Riau sudah kembali normal,” tegas Ade.

Pengawasan ini menjadi bagian dari upaya menjaga tata niaga sawit agar berjalan transparan dan tidak merugikan petani. Pemerintah pusat sebelumnya memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan harga TBS karena komoditas ini memiliki dampak ekonomi yang sangat besar bagi daerah penghasil sawit.

Baca Juga:  Harga Pertamax di Riau Naik Jadi Rp17.000 per Liter, Selisih dengan Pertalite Makin Lebar

Riau merupakan salah satu sentra perkebunan sawit terbesar di Indonesia. Karena itu, perubahan harga TBS sekecil apa pun dapat memengaruhi daya beli masyarakat, aktivitas ekonomi pedesaan, hingga tingkat kesejahteraan petani.

Stabilitas harga juga memiliki implikasi terhadap investasi sektor perkebunan dan industri hilir sawit. Harga yang terjaga memberikan kepastian usaha bagi petani maupun perusahaan sehingga rantai pasok industri dapat berjalan lebih baik.

Dampak Langsung bagi Ekonomi Riau
Kembalinya harga TBS ke level normal menjadi kabar positif bagi petani rakyat yang selama ini sangat bergantung pada hasil penjualan buah sawit sebagai sumber pendapatan utama.

Dengan rata-rata harga mencapai Rp3.167 per kilogram, petani memperoleh kepastian yang lebih baik dalam menyusun rencana produksi dan pengelolaan kebun.

Selain berdampak pada rumah tangga petani, stabilitas harga sawit juga berkontribusi terhadap perputaran ekonomi daerah. Pendapatan petani yang meningkat umumnya akan mendorong aktivitas perdagangan, jasa, dan konsumsi masyarakat di berbagai wilayah sentra perkebunan.

Meski demikian, tantangan ke depan tetap ada. Fluktuasi harga minyak sawit mentah (CPO) global, perubahan permintaan pasar internasional, hingga faktor kualitas buah di tingkat kebun masih menjadi variabel yang dapat memengaruhi harga TBS.

Karena itu, Polda Riau menyatakan akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan harga sawit di berbagai daerah guna memastikan tidak terjadi praktik yang merugikan petani maupun gangguan terhadap mekanisme pasar yang sehat.

Dengan hasil pengawasan terbaru tersebut, kekhawatiran terhadap penurunan harga TBS secara masif di Riau untuk sementara dapat ditepis. Data lapangan menunjukkan mayoritas pabrik masih membeli hasil panen petani pada level harga yang relatif stabil dan berada di atas Rp3.000 per kilogram. (rac)