Waduk Nongsa Menyusut, BP Batam Siapkan OMC dan SWRO Demi Amankan Pasokan Air

TMA Waduk Nongsa turun ke 5,96 meter. BP Batam mengatur produksi air dan menyiapkan sejumlah skenario menghadapi minim hujan. (Foto: Dok. BP Batam)

BATAM, FOKUSRIAU.COM-Persediaan air baku Batam menghadapi tekanan di tengah kondisi cuaca yang minim hujan. Tinggi muka air (TMA) Waduk Nongsa kini berada di level 5,96 mete, sementara kebutuhan air masyarakat terus bergerak naik.

Situasi tersebut membuat Badan Pengusahaan (BP) Batam melakukan pengaturan produksi dan pengambilan air baku agar cadangan yang tersedia dapat bertahan lebih lama.

Tekanan semakin terasa karena produksi efektif yang saat ini masuk ke sistem distribusi berada di kisaran 3.780 liter per detik (Lps). Angka itu hanya sekitar 80 Lps di atas kebutuhan rata-rata masyarakat Batam yang mencapai 3.700 Lps.

Selisih yang relatif kecil tersebut membuat setiap penurunan pasokan air baku perlu diantisipasi. Jika hujan belum kembali normal, ruang cadangan untuk menjaga distribusi air akan semakin terbatas.

Waduk Nongsa dan Sei Harapan Terus Dipantau
Waduk Nongsa menjadi salah satu sumber air baku yang mendapat perhatian BP Batam. Penurunan tinggi muka air di waduk tersebut dipantau dari hari ke hari.

Kondisi Waduk Sei Harapan juga menjadi perhatian karena turut menopang sistem penyediaan air bagi masyarakat Batam.

Kepala BP Batam Amsakar Achmad mengatakan pemantauan langsung terus dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi sumber air sekaligus memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan.

“Kami terus memantau kondisi waduk setiap hari. Pengaturan produksi juga terus dilakukan sebagai langkah antisipasi agar cadangan air baku dapat bertahan lebih lama, terutama selama kondisi cuaca masih minim hujan,” ujar Amsakar.

BP Batam bersama PT ABH juga mulai mendistribusikan air bersih menggunakan mobil tangki ke sejumlah wilayah yang pasokan airnya belum terpenuhi secara maksimal.

Langkah tersebut menjadi bagian dari respons terhadap kondisi pasokan yang mulai menghadapi tekanan.

Produksi Air Hanya Berjarak 80 Lps dari Kebutuhan
Kondisi Batam saat ini memperlihatkan tantangan lain. Kapasitas produksi efektif yang masuk ke jaringan distribusi sekitar 3.780 Lps, sedangkan kebutuhan rata-rata masyarakat mencapai 3.700 Lps.

Artinya, terdapat selisih sekitar 80 Lps. Margin tersebut membuat ketahanan sistem air sangat dipengaruhi oleh kondisi sumber air baku. Penurunan debit maupun muka air waduk dalam periode panjang dapat mempersempit ruang bagi pengelola untuk mempertahankan pasokan.

BP Batam karena itu tidak hanya mengandalkan kondisi sumber air yang ada. Sejumlah langkah darurat dan alternatif mulai disiapkan apabila penurunan muka air waduk berlanjut.

Siapkan OMC dan Pengaturan Distribusi
Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano mengatakan, pihaknya telah menyiapkan beberapa opsi untuk menghadapi kemungkinan berlanjutnya periode minim hujan.

Salah satu langkah yang dikaji adalah koordinasi tambahan untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Teknologi tersebut diarahkan untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di kawasan tangkapan air.

BP Batam juga menyiapkan pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) baru di Sei Ladi dengan kapasitas 50 Lps. Fasilitas tersebut diharapkan dapat memberikan tambahan dukungan terhadap sistem penyediaan air.

Pemanfaatan embung juga masuk dalam skenario. Air dari sejumlah embung dapat dipompa untuk membantu mengisi waduk terdekat atau diolah melalui fasilitas pengolahan air yang dibangun di sekitar sumber tersebut.

Opsi pengaturan pasokan secara bergilir juga tengah dikaji. Namun, penerapannya akan melihat kondisi jaringan perpipaan serta dampaknya bagi masyarakat.

“Kami tidak ingin menunggu sampai kondisi menjadi lebih sulit. Karena itu, berbagai skenario sudah kami siapkan dan terus kami evaluasi berdasarkan perkembangan kondisi waduk di lapangan. Kami ingin pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik,” kata Denny.

Tantangan Air Batam Tak Berhenti di 2026
Persoalan Waduk Nongsa tidak hanya berkaitan dengan kondisi pasokan air saat ini. Pertumbuhan Batam membuat kebutuhan air diperkirakan terus meningkat dalam dua dekade mendatang.

BP Batam memproyeksikan kebutuhan air Batam dapat mencapai 7.149 Lps pada 2045.

Kenaikan kebutuhan tersebut akan mengikuti perkembangan kawasan permukiman, industri, pusat data, pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi lainnya.

Dengan proyeksi tersebut, ketahanan air menjadi tantangan jangka panjang. Sumber air baku yang terbatas perlu diimbangi dengan pengembangan sumber baru dan teknologi pengolahan yang lebih beragam.

BP Batam Kembangkan Sumber Air Alternatif
Untuk menghadapi kebutuhan jangka panjang, BP Batam mengembangkan konsep Batam Integrated Total Water Management.

Konsep tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan air sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber air baku konvensional.

Sejumlah sumber alternatif masuk dalam perencanaan, termasuk Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), air daur ulang, embung serta pemanfaatan air hujan atau stormwater.

Dalam proyeksi jangka panjang, kontribusi SWRO ditargetkan mencapai 2.500 Lps. Air daur ulang diproyeksikan menyumbang 500 Lps, sementara embung dan stormwater ditargetkan memberikan tambahan 500 Lps.

BP Batam juga mengkaji pengembangan waduk laut dan kemungkinan pemanfaatan sumber air dari wilayah sekitar Batam. Total rencana kapasitas dari opsi tersebut mencapai 3.000 Lps.

Jika berbagai sumber alternatif itu dapat dikembangkan sesuai rencana, sistem penyediaan air Batam tidak lagi hanya bertumpu pada waduk-waduk yang ada.

Kebutuhan Air Diproyeksikan Capai 7.149 Lps
Proyeksi kebutuhan hingga 2045 menjadi gambaran bahwa pertumbuhan Batam akan berjalan beriringan dengan meningkatnya kebutuhan terhadap air bersih.

Saat ini saja, kebutuhan rata-rata sudah berada di angka 3.700 Lps. Sementara produksi efektif sekitar 3.780 Lps.

Kondisi Waduk Nongsa dengan TMA 5,96 meter menjadi pengingat bahwa keseimbangan antara ketersediaan sumber air dan kebutuhan masyarakat harus terus dijaga.

“Kekokohan ketahanan air menjadi kebutuhan bersama. Oleh karena itu, BP Batam tidak hanya fokus pada kondisi hari ini, tetapi juga menyiapkan sumber air baru untuk masa mendatang,” ujar Denny.

Untuk sementara, pemantauan waduk, pengaturan produksi, distribusi menggunakan mobil tangki dan persiapan sejumlah sumber alternatif terus dilakukan. Perkembangan kondisi cuaca dan sumber air baku akan menjadi faktor penting dalam menentukan langkah berikutnya. (bic)