Karmila Sari Bekali 274 Mahasiswa Baru Universitas Awal Bros, Kuliah Tak Cukup Hanya Pintar

Anggota Komisi X DPR RI, Dr Hj Karmila Sari, SKom, MM, saat memberikan pembekalan kepada 274 mahasiswa baru Universitas Awal Bros. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Memasuki dunia perguruan tinggi, mahasiswa tidak hanya dituntut mengejar prestasi akademik. Kemampuan beradaptasi, membangun karakter, menghargai perbedaan hingga menjaga perilaku di ruang digital juga menjadi bekal yang tak kalah penting.

Pesan tersebut disampaikan Anggota Komisi X DPR RI, Dr Hj Karmila Sari, SKom, MM, saat memberikan pembekalan kepada 274 mahasiswa baru Universitas Awal Bros dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026 di Ballroom Grand Central Hotel Pekanbaru, Senin (14/9/2026).

Dalam kegiatan yang mengusung tema “Unggul Berkarakter, Adaptif Berkarya, Berdampak Nyata” itu, Karmila mengajak mahasiswa menjadikan masa awal perkuliahan sebagai momentum membentuk pribadi, bukan sekadar mengenal lingkungan kampus.

Pancasila Bukan Sekadar Materi Hafalan
Saat menyampaikan materi bertajuk “Menjadi Generasi Muda yang Berkarakter, Berkonstitusi, dan Menghargai Keberagaman”, Karmila mengajak mahasiswa melihat Pancasila dari sisi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, nilai-nilai Pancasila dapat diterapkan melalui cara mahasiswa berinteraksi, menyikapi perbedaan dan mengambil keputusan.

“Pancasila bukan sekadar hafalan saat sekolah, teks yang dibaca ketika upacara, materi ujian, atau simbol di ruang kelas. Pancasila adalah cara kita berpikir, bersikap, memperlakukan orang lain, dan menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Karmila.

Ia kemudian menguraikan penerapan lima sila Pancasila dalam kehidupan mahasiswa.

Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, misalnya, dapat diwujudkan melalui sikap toleransi serta menghormati teman yang memiliki keyakinan berbeda.

Sementara nilai kemanusiaan harus tercermin dalam penghormatan terhadap sesama. Karmila mengingatkan mahasiswa untuk menolak bullying, kekerasan maupun pelecehan seksual.

Ia juga meminta mahasiswa lebih berhati-hati ketika bercanda dengan teman. Sebab, sesuatu yang dianggap lucu oleh seseorang belum tentu memberikan pengalaman yang sama bagi orang lain.

“Jangan sampai hal yang menurut kita bercanda justru menjadi sesuatu yang merusak karakter dan kenyamanan orang lain,” tegasnya.

Perbedaan di Kampus Jadi Ruang Belajar
Karmila juga mengingatkan mahasiswa baru agar tidak menjadikan perbedaan suku, daerah, bahasa maupun latar belakang sebagai alasan untuk membuat sekat pergaulan.

Menurut dia, keberagaman justru dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar memahami karakter dan sudut pandang orang lain.

Nilai persatuan, kata Karmila, dapat dimulai dari lingkungan kampus. Mahasiswa bisa membangun kebersamaan tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing.

Pada sisi lain, nilai kerakyatan dapat dilatih melalui kebiasaan berdiskusi, bermusyawarah dan menghargai pendapat yang berbeda. Karena itu, mahasiswa baru didorong aktif mengikuti organisasi kampus.

Menurut Karmila, organisasi dapat menjadi tempat untuk mengasah kepemimpinan, membangun kerja sama, membagi tugas hingga mencari jalan keluar ketika menghadapi persoalan.

Namun, aktivitas organisasi tetap harus berjalan beriringan dengan kewajiban akademik.

“Jangan lupa tugas utamanya adalah menyelesaikan kuliah dengan hasil yang sangat memuaskan. Organisasi menjadi ruang untuk belajar memahami karakter orang, berbagi tugas dan membangun kemampuan kepemimpinan,” ujarnya.

Kejujuran Jadi Bekal Masuk Dunia Kerja
Pembekalan juga menyentuh penerapan sila kelima Pancasila. Karmila menekankan kejujuran, kepedulian dan penghormatan terhadap hak orang lain.

Nilai tersebut tidak berhenti pada kehidupan mahasiswa. Kebiasaan yang dibangun selama kuliah akan ikut membentuk sikap ketika seseorang memasuki dunia kerja dan terjun ke tengah masyarakat.

Karmila juga menjelaskan posisi Pancasila sebagai dasar sekaligus ideologi negara, UUD 1945 sebagai konstitusi, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai semangat yang menjaga persatuan dalam keberagaman.

Karena itu, ia berharap mahasiswa tidak hanya mengejar indeks prestasi. Kemampuan akademik perlu berjalan bersama etika, empati dan keterampilan sosial.

“Mahasiswa jangan hanya pintar dan berwawasan. Harus terampil, memiliki karakter unggul dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” katanya.

Mahasiswa Diminta Bijak Bermedia Sosial
Dalam sesi dialog bersama mahasiswa baru, Karmila juga membuka ruang bagi mereka yang ingin aktif dalam organisasi seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Ia menilai pengalaman berorganisasi dapat membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan menyelesaikan masalah, bekerja bersama tim serta memperluas jejaring.

Di tengah perkembangan media sosial, Karmila turut mengingatkan mahasiswa agar tidak sembarangan membuat unggahan.

Menurutnya, apa yang ditulis atau dibagikan seseorang di media sosial dapat menjadi bagian dari rekam jejak pribadi. Karena itu, mahasiswa perlu mempertimbangkan dampak sebuah unggahan terhadap citra dan masa depan mereka.

Rangkaian PKKMB tersebut juga diisi penyampaian pesan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof Brian Yuliarto melalui sambungan daring.

Dalam pesannya, mahasiswa baru didorong mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kepemimpinan, kepedulian sosial dan kemampuan beradaptasi.

PKKMB menjadi tahap peralihan bagi mahasiswa dari pola kehidupan sekolah menuju lingkungan perguruan tinggi. Masa tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk membangun pola pikir dan kesiapan menghadapi tantangan yang lebih luas.

Melalui pembekalan tersebut, 274 mahasiswa baru Universitas Awal Bros diharapkan mampu beradaptasi dengan kehidupan kampus sekaligus mengembangkan kapasitas diri.

Bukan hanya mengejar gelar dan prestasi akademik, tetapi juga tumbuh sebagai generasi yang berkarakter, mampu beradaptasi dalam berkarya serta menghadirkan kontribusi bagi masyarakat. (bsh)