Tak Ingin Pangan Lokal Cuma Jadi Pajangan, Afni Dorong Produk Siak Masuk Dapur MBG

Bupati Afni ketika membuka Festival Pangan Lokal dan Lomba Cipta Menu Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA) tingkat Kabupaten Siak di Halaman Siak Bermadah, Kamis (5/11/2026). (Foto: Dok. Kominfo)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak hanya dilihat sebagai upaya meningkatkan asupan gizi anak-anak. Bupati Siak, Afni Zulkifli ingin program nasional tersebut menjadi pintu masuk bagi produk pangan lokal untuk menembus pasar yang lebih luas.

Gagasan itu diarahkan pada pembentukan rantai ekonomi dari tingkat petani, kelompok pengolah pangan, pelaku usaha hingga penyedia makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Dengan pola tersebut, kebutuhan bahan pangan untuk MBG diharapkan tidak hanya dipenuhi melalui produk dari luar daerah. Potensi pangan yang dihasilkan masyarakat Siak juga harus mendapat ruang untuk terserap.

Pesan itu disampaikan Afni ketika membuka Festival Pangan Lokal dan Lomba Cipta Menu Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA) tingkat Kabupaten Siak di Halaman Siak Bermadah, Kamis (5/11/2026).

Menurut Afni, kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan pangan lokal perlu diikuti langkah konkret untuk membangun pasar. Sebab, inovasi makanan tidak akan memberikan dampak ekonomi maksimal apabila hasil produksinya berhenti sebatas kegiatan lomba atau konsumsi rumah tangga.

“Nilai ekonominya bukan hanya pada suapan yang masuk ke mulut, melainkan bagaimana rantai pasok ini berjalan. Kalau mulai dari hulunya kita pikirkan, baru muncul kata sejahtera,” kata Afni, Jumat (6/11/2026).

Baca Juga :  Waspada DBD! Tiga Warga Pekanbaru Meninggal, Tuah Madani Catatkan Kasus Tertinggi

Dari Dapur Keluarga Menuju Rantai Pasok MBG
Afni melihat program MBG memiliki peluang besar, untuk mempertemukan dua kepentingan sekaligus: pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat dan penguatan ekonomi daerah.

Produk olahan berbasis ikan, umbi-umbian, buah serta komoditas lokal lainnya dinilai dapat dikembangkan menjadi alternatif menu SPPG, sepanjang memenuhi standar gizi, keamanan pangan, kualitas dan kebutuhan penyediaan makanan.

Karena itu, ia meminta pengembangan pangan lokal tidak hanya berorientasi pada tampilan dan kreativitas menu. Ketersediaan bahan baku, kemampuan produksi, kesinambungan pasokan hingga distribusi harus ikut dipersiapkan.

Afni juga mendorong Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP), TP PKK, para camat hingga penghulu mengambil peran dalam mengembangkan potensi tersebut.

Ia berharap, TP PKK dapat dilibatkan dalam Satgas MBG untuk membantu pengawasan pelaksanaan program, termasuk mendorong agar pemanfaatan bahan pangan daerah berjalan seiring dengan pemenuhan standar makanan bergizi.

“Kita ingin kreativitas dan inovasi ini diberdayakan. Pangan lokal adalah kekuatan utamanya. Kalau terserap, hulu hingga hilirnya bisa menciptakan masyarakat yang sehat sekaligus sejahtera,” ujarnya.

Baca Juga :  Buruh Riau Desak Pemerintah Tetapkan Upah 2027 Berbasis 100 Persen KHL, Tolak Pajak Pesangon

14 Kecamatan Pamerkan Kreasi Pangan Lokal
Potensi tersebut terlihat dalam Festival Pangan Lokal yang diikuti Tim Penggerak PKK dari 14 kecamatan di Kabupaten Siak.

Berbagai kreasi makanan disajikan dengan memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di daerah. Mulai dari olahan ikan, buah, umbi-umbian hingga bahan pangan alternatif lainnya.

Beberapa menu yang menarik perhatian di antaranya Ikan Nila Khusus Tualang, Sambal Nanas Manis, Ubi Mesik Kukus, Labu Bersantan Putri Indrapura, Patin Lancang Pelangi dan Patin Gulung Telur.

Ada pula Rendang Jamur Tempe, Krim Buah Cimplukan dan Patin Sutra Saus Kencana.

Ragam sajian tersebut memperlihatkan bahwa bahan pangan lokal memiliki ruang untuk dikembangkan menjadi menu yang lebih variatif. Bukan hanya untuk memperkaya pilihan konsumsi keluarga, tetapi juga berpotensi menjadi produk bernilai ekonomi.

Ketua TP PKK Kabupaten Siak, Siti Sarifah, mengatakan festival tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan masyarakat mengonsumsi makanan dengan prinsip B2SA.

Menurutnya, perubahan pola konsumsi perlu dimulai dari lingkungan keluarga. Masyarakat diharapkan semakin terbiasa mengolah bahan pangan lokal yang mudah diperoleh menjadi makanan dengan kandungan gizi baik.

Baca Juga :  BMKG Peringatkan Hujan Lebat dan Angin Kencang di Tiga Daerah Riau, Warga Diminta Waspada

Kegiatan ini juga diramaikan lomba stan pameran produk olahan pangan lokal tingkat Kabupaten Siak.

Bagi Pemerintah Kabupaten Siak, tantangan berikutnya bukan sekadar melahirkan semakin banyak kreasi menu. Yang lebih dibutuhkan adalah memastikan produk tersebut memiliki keberlanjutan produksi dan akses pasar.

Jika peluang masuk rantai pasok MBG dapat diwujudkan dengan tata kelola dan standar yang tepat, program pemenuhan gizi nasional berpotensi menjadi penggerak ekonomi lokal. Petani memperoleh pasar, pelaku usaha mendapat peluang produksi, sementara masyarakat menikmati pilihan makanan yang lebih beragam dan bergizi. (bsh)