Dari Ahli Serangga ke Sarjana Biologi, BGN Masuki Babak Baru di Tengah Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis

Kepala BGN, Nanik S Deyang, memberikan keterangan pers. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, FOKUSRIAU.COM-Pergantian kepemimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN) menandai fase baru dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Setelah dipimpin Dadan Hindayana yang dikenal sebagai akademisi dan ahli serangga, tongkat estafet kini berada di tangan Nanik S Deyang, seorang Sarjana Biologi yang sebelumnya menjabat Wakil Kepala BGN.

Perubahan tersebut dilakukan Presiden Prabowo Subianto di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap efektivitas program MBG yang menjadi salah satu proyek sosial terbesar pemerintah saat ini.

Dadan sendiri memiliki rekam jejak akademik yang kuat. Ia dikenal sebagai lulusan terbaik bidang Hama dan Penyakit Tanaman serta menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Universitas Gottfried Wilhelm Leibniz Hannover, Jerman.

Kini, arah kebijakan BGN berada di bawah komando Nanik yang membawa pendekatan berbeda. Dalam penampilan perdananya sebagai Kepala BGN, ia langsung menegaskan identitas akademiknya sebagai Sarjana Biologi.

Pernyataan itu bukan sekadar penjelasan administratif. Di tengah besarnya ekspektasi publik terhadap BGN, latar belakang pendidikan dan kapasitas pimpinan lembaga menjadi perhatian tersendiri dalam memastikan keberhasilan program nasional tersebut.

Selain menunjuk Nanik sebagai kepala, Presiden juga melakukan penyegaran pada posisi wakil kepala. Agustina Arumsari dipercaya memperkuat aspek pengawasan dan tata kelola, sedangkan Mayjen TNI Trenggono akan membantu penguatan operasional program di lapangan.

Baca Juga:  Dari Dicopot Prabowo Sampai Jadi Tersangka, Sehari yang Mengubah Nasib Eks Pimpinan BGN

Menurut Nanik, pengalaman panjang Agustina di bidang audit dan pengawasan menjadi modal penting untuk memastikan pengelolaan keuangan negara berjalan lebih akuntabel.

Langkah itu tidak terlepas dari munculnya dugaan kasus korupsi yang berkaitan dengan tata kelola Program Makan Bergizi Gratis. Karena itu, penguatan sistem pengawasan menjadi salah satu agenda utama dalam masa transisi kepemimpinan baru.

Namun fokus Nanik tidak hanya berhenti pada aspek tata kelola. Ia juga menyoroti pentingnya mengubah paradigma pelaksanaan MBG dari sekadar mengejar jumlah penerima menjadi memastikan kualitas layanan yang diberikan.

Di hadapan media, Nanik mengaku telah menyampaikan langsung kepada Presiden Prabowo bahwa BGN membutuhkan ruang untuk memperbaiki kualitas program sepanjang tahun 2026.

Pendekatan tersebut akan diwujudkan melalui evaluasi penerima manfaat dan distribusi anggaran yang lebih tepat sasaran. Daerah-daerah 3T disebut akan menjadi prioritas karena masih menghadapi tantangan akses pangan dan gizi yang lebih besar dibanding wilayah perkotaan.

Baca Juga:  Bupati Siak Afni Ungkap Jurang Fiskal Daerah Penghasil di DPD RI, Soroti Ketidakadilan Dana Bagi Hasil

Refocusing juga akan dilakukan terhadap sekolah yang dinilai memiliki kemampuan ekonomi lebih baik. Dengan skema itu, pemerintah berharap manfaat program dapat menjangkau kelompok yang benar-benar membutuhkan.

Di sisi lain, Nanik berjanji membuka komunikasi yang lebih intensif dengan masyarakat. Ia berencana menggelar konferensi pers rutin setiap pekan atau dua pekan sekali sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas publik.

Komitmen tersebut menjadi sinyal bahwa kepemimpinan baru BGN ingin membangun kepercayaan publik melalui keterbukaan informasi. Di tengah besarnya anggaran dan tingginya harapan masyarakat terhadap Program Makan Bergizi Gratis, transparansi dan kualitas pelaksanaan akan menjadi ukuran utama keberhasilan BGN ke depan.

Pergantian dari seorang ahli serangga kepada Sarjana Biologi mungkin hanya terlihat sebagai perubahan figur. Namun di balik itu, publik kini menanti apakah perubahan kepemimpinan tersebut mampu menghadirkan tata kelola yang lebih kuat dan manfaat yang lebih nyata bagi jutaan penerima Program Makan Bergizi Gratis di seluruh Indonesia. (kps)

Tinggalkan Balasan