PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali membayangi Riau, seiring berkurangnya intensitas hujan di sejumlah daerah. Menghadapi situasi tersebut, pemerintah memperkuat kesiapsiagaan dengan menambah armada pemadaman udara berupa satu unit helikopter water bombing yang dijadwalkan tiba pekan ini.
Langkah ini menjadi sinyal upaya pencegahan dan penanganan karhutla tidak hanya dilakukan saat kebakaran terjadi, tetapi sudah dimulai sejak potensi risiko mulai terlihat di lapangan. Penguatan armada udara dinilai penting mengingat sebagian wilayah Riau mulai memasuki fase kering yang dapat memicu munculnya titik api.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Edy Afrizal mengatakan, tambahan helikopter tersebut akan memperkuat operasi pemadaman dari udara sekaligus mempercepat respons ketika kebakaran muncul di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
“Saat ini helikopter tersebut masih dalam proses perjalanan dari Australia menuju Indonesia. Dalam waktu dekat akan bergabung untuk mendukung penanganan karhutla di Riau,” kata Edy Afrizal kepada wartawan, Rabu (3/6/2026) di Pekanbaru.
Saat ini, Riau masih mengandalkan dua armada udara untuk mendukung operasi penanggulangan karhutla. Keduanya terdiri dari satu unit helikopter water bombing dan satu unit helikopter patroli yang digunakan untuk pemantauan wilayah rawan kebakaran.
Dikatakan, sebelumnya Riau memiliki dua unit helikopter water bombing yang aktif beroperasi. Namun satu unit sementara diperbantukan ke Provinsi Aceh yang juga tengah meningkatkan penanganan karhutla di wilayahnya.
Meski satu armada sedang bertugas di luar daerah, kesiapan Riau tetap menjadi perhatian pemerintah pusat. Kehadiran helikopter tambahan diharapkan mampu menjaga kekuatan operasi udara selama musim kemarau berlangsung.
Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa pemadaman dari udara menjadi salah satu faktor penting dalam menekan meluasnya kebakaran. Strategi ini terutama efektif untuk menjangkau kawasan gambut dan lokasi terpencil yang sulit diakses kendaraan darat.
Selain memperkuat armada, BPBD Riau juga terus mengintensifkan patroli udara serta pemantauan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi. Langkah tersebut dilakukan untuk mendeteksi lebih dini kemunculan titik panas sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.
Di sisi lain, kondisi cuaca saat ini mulai menunjukkan pola yang perlu diwaspadai. Curah hujan yang tidak merata menyebabkan sebagian daerah masih diguyur hujan, sementara wilayah lainnya mulai mengalami kekeringan.
“Kondisi ini harus menjadi perhatian bersama karena lahan yang mulai mengering lebih mudah terbakar apabila terdapat sumber api,” jelas Edy.
Karena itu, pemerintah mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan maupun meninggalkan api tanpa pengawasan juga menjadi faktor yang berpotensi memicu kebakaran.
BPBD Riau turut meminta perusahaan perkebunan dan pemegang konsesi meningkatkan patroli mandiri di wilayah operasional masing-masing. Penanganan cepat terhadap titik api kecil dinilai menjadi kunci utama mencegah kebakaran meluas dan menimbulkan dampak kabut asap.
“Jika ditemukan titik api, segera lakukan pemadaman. Semakin cepat ditangani, semakin kecil risiko kebakaran berkembang menjadi lebih besar,” tegasnya.
Dengan tambahan armada udara dan penguatan pengawasan lapangan, Riau berupaya menjaga status siaga karhutla sejak dini. Kolaborasi pemerintah, perusahaan dan masyarakat menjadi faktor penentu agar musim kemarau tahun ini tidak berkembang menjadi bencana asap yang mengganggu kesehatan, aktivitas ekonomi dan mobilitas warga. (mcr)








