Dari Kobaran Api Sampai Trauma Warga, Polwan Riau Hadir di Tengah Karhutla

Sejumlah personil Polwan Polres Pelalawan berjibaku memadamkan karhutla. (Foto: Dok. Polda Riau)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Asap serta ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membawa Polwan Polda Riau turun ke lapangan menjelang Hari Jadi ke-78 Polisi Wanita Republik Indonesia, 1 September 2026.

Di tengah ancaman karhutla, para Srikandi Polri tidak mengambil jarak dari persoalan warga. Mereka turun ke wilayah terdampak dengan tugas berbeda. Ada yang membantu memadamkan api, membagikan masker dan mendampingi masyarakat menghadapi dampak psikologis kebakaran.

Di Rokan Hilir, sejumlah Polwan Polres Rohil terlibat langsung dalam penanganan karhutla di kawasan Napangga Pujud, Kecamatan Tanjung Medan.

Mereka berada di lapangan bersama personel lainnya untuk membantu mengendalikan kebakaran. Upaya itu dilakukan agar api tidak semakin meluas.

Sementara di Pelalawan, pendekatan yang dilakukan berbeda. Sebanyak 26 Polwan diterjunkan ke Kecamatan Kerumutan. Mereka membagikan masker kepada warga sekaligus memberikan trauma healing bagi masyarakat yang terdampak karhutla.

Penanganan karhutla tidak selalu berakhir ketika api berhasil dikendalikan.

Baca Juga :  Helikopter CH-47 Chinook Jepang Siap Bantu Padamkan Karhutla

Bagi warga yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran, asap dan situasi darurat dapat meninggalkan persoalan lain. Karena itu, kehadiran personel kepolisian juga diarahkan untuk menyentuh kebutuhan masyarakat.

Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Akmadi mengatakan, keterlibatan Polwan disesuaikan dengan kebutuhan yang ditemukan di lapangan.

“Polwan hadir sesuai kebutuhan di lapangan. Selain membantu penanganan kebakaran, mereka juga memberikan pendampingan kepada masyarakat yang terdampak,” kata Akmadi, Minggu (30/8/2026).

Pendekatan tersebut membuat tugas Polwan tidak berhenti pada penanganan fisik kebakaran. Di satu lokasi, mereka berhadapan dengan ancaman api. Di lokasi lain, mereka berhadapan dengan warga yang membutuhkan perlindungan dan dukungan.

Bergerak dari Berbagai Satuan
Keterlibatan Polwan dalam penanganan karhutla berawal dari arahan Kapolda Riau. Arahan tersebut diteruskan melalui Kepala Biro SDM selaku Pembina Harian Polwan kepada Pakor Polwan Polda Riau. Selanjutnya, jajaran Polwan di wilayah terdampak diminta mengambil peran sesuai kondisi masing-masing.

Baca Juga :  Konflik Gajah Liar di Bengkalis, Seorang Warga Meninggal dan Satu Terluka

Pakor Polwan Polda Riau, AKBP Vera Taurensa mengatakan, personel yang bergerak tidak hanya berasal dari satu kesatuan.

Polwan dari Mapolda Riau bergabung dengan personel Polwan Brimob, Samapta serta jajaran Polres. Mereka memperkuat penanganan karhutla di daerah yang membutuhkan dukungan.

“Ini bentuk pengabdian Polwan sekaligus tindak lanjut arahan pimpinan agar Polwan hadir dan mengambil peran dalam penanganan karhutla sesuai kebutuhan di wilayah masing-masing,” ujar Vera.

Bagi Vera, pola penugasan tersebut mengikuti situasi nyata di lapangan. Ada personel yang membantu pemadaman. Ada pula yang memberikan pelayanan kepada masyarakat yang terdampak asap dan kebakaran.

Merayakan Hari Jadi dengan Turun ke Lapangan
Tanggal 1 September menjadi momentum khusus bagi Polisi Wanita di Indonesia. Namun, menjelang peringatan Hari Jadi ke-78 Polwan, para Srikandi Polda Riau justru berada di tengah persoalan yang dihadapi masyarakat.

Rokan Hilir menjadi salah satu titik ketika Polwan berhadapan langsung dengan kebakaran. Di Pelalawan, mereka hadir membawa masker dan memberikan pendampingan psikologis kepada warga.

Baca Juga :  Sisa Kuota Internet Tak Boleh Lagi Hangus, Ini Aturan Baru Pemerintah

Dua bentuk tugas itu memperlihatkan wajah pengabdian yang berbeda. Api membutuhkan penanganan cepat. Warga membutuhkan rasa aman dan pendampingan.

Di tengah ancaman karhutla, Polwan Polda Riau memilih memperingati hari jadinya dengan cara yang dekat dengan masyarakat: hadir ketika warga membutuhkan.

Bukan sekadar berada di balik meja pelayanan, tetapi ikut merasakan situasi lapangan yang dihadapi masyarakat.

Dan di tengah kepulan asap karhutla, pengabdian itu mengambil bentuk yang sederhana sekaligus nyata: membantu memadamkan api, memberikan masker, serta mendampingi warga yang terdampak. (bsh)