Dua Pekan Berselimut Kabut Asap, Dinkes Riau Catat 11.370 Kasus ISPA

Sejumlah warga di Pekanbaru mengaku mengalami gangguan pernafasan dan mendatangi puskesmas untuk berobat. (Foto: Wahyu Falatehan)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai memperlihatkan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat Riau. Dalam dua pekan pertama September 2026, ribuan kasus gangguan kesehatan tercatat di berbagai daerah.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Riau menunjukkan terdapat 12.358 kasus gangguan kesehatan yang dihimpun sepanjang 1 hingga 14 September 2026.

Dari jumlah tersebut, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi keluhan kesehatan yang paling banyak ditemukan, yakni mencapai 11.370 kasus.

Angka tersebut menyumbang sekitar 92 persen dari seluruh kasus gangguan kesehatan yang tercatat selama periode tersebut.

ISPA Jauh Lebih Banyak Dibanding Keluhan Lain
Besarnya jumlah penderita ISPA menunjukkan gangguan pernapasan menjadi persoalan kesehatan yang paling menonjol ketika masyarakat terpapar udara dengan kualitas buruk.

Data Dinkes Riau juga mencatat sejumlah gangguan kesehatan lain yang diduga berkaitan dengan kondisi udara dan paparan asap.

Iritasi kulit tercatat sebanyak 353 kasus. Kemudian asma sebanyak 332 kasus, konjungtivitis atau gangguan pada mata mencapai 252 kasus, sedangkan pneumonia tercatat 51 kasus.

Baca Juga :  Kabut Asap Menebal, Citilink Sempat Holding di Langit Pekanbaru

Jika seluruh jenis gangguan tersebut digabungkan, terdapat 12.358 kasus yang masuk dalam pencatatan kesehatan masyarakat selama dua pekan pertama September.

Kondisi ini menjadi perhatian karena paparan asap karhutla dapat membawa partikel halus yang masuk ke saluran pernapasan. Kelompok masyarakat tertentu juga memiliki risiko lebih tinggi ketika kualitas udara memburuk.

Anak-anak dan Lansia Diminta Lebih Waspada
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala kesehatan yang muncul selama periode kabut asap.

Menurut dia, pemeriksaan medis sebaiknya segera dilakukan ketika seseorang mulai mengalami keluhan, terutama yang berkaitan dengan gangguan pernapasan.

“Kalau mulai mengalami keluhan, sebaiknya jangan menunggu sampai parah. Segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat,” ujar Zulkifli, Selasa (15/9/2026).

Dikatakan, pemeriksaan lebih awal dapat membantu tenaga medis memberikan penanganan sesuai kondisi pasien. Langkah tersebut juga dibutuhkan untuk mencegah gangguan kesehatan berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.

Zulkifli menyebut, anak-anak, ibu hamil, lanjut usia dan masyarakat yang memiliki penyakit penyerta perlu mendapat perhatian lebih selama kualitas udara menurun.

Baca Juga :  Bedah Rapor 7 BUMD Riau, Ada yang Moncer, Stagnan Bahkan Tak Lagi Beroperasi

“Terutama untuk anak-anak, ibu hamil, lansia dan mereka yang punya penyakit penyerta karena kelompok ini lebih rentan terkena dampak polusi udara,” katanya.

Puskesmas dan Tim Medis Disiagakan
Mengantisipasi kemungkinan bertambahnya jumlah pasien, Dinkes Riau meminta fasilitas pelayanan kesehatan di daerah meningkatkan kesiapsiagaan.

Puskesmas diminta memastikan kesiapan tenaga medis dan peralatan yang dibutuhkan. Pemerintah juga menyiapkan dukungan berupa oksigen untuk menghadapi kemungkinan meningkatnya pasien dengan gangguan pernapasan.

“Puskesmas sudah kita minta bersiap. Oksigen konsentrator juga disiagakan dan tim medis darurat diaktifkan supaya kalau sewaktu-waktu pasien bertambah, penanganannya bisa langsung dilakukan,” jelas Zulkifli.

Kesiapan tersebut dibutuhkan mengingat kondisi kualitas udara dapat berubah mengikuti perkembangan karhutla dan faktor cuaca.

Dinkes juga meminta jajaran kesehatan di kabupaten dan kota memperkuat pemantauan terhadap masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan setelah terpapar asap.

Kasus Akibat Asap Diminta Segera Dilaporkan
Tenaga kesehatan di seluruh kabupaten dan kota di Riau diminta aktif menyampaikan laporan apabila menemukan pasien dengan keluhan yang berkaitan dengan paparan kabut asap.

Baca Juga :  Bedah Rapor 7 BUMD Riau, Ada yang Moncer, Stagnan Bahkan Tak Lagi Beroperasi

Laporan tersebut mencakup sejumlah gangguan kesehatan seperti ISPA, pneumonia, asma, iritasi mata hingga iritasi kulit.

“Kalau ditemukan kasus akibat asap seperti ISPA, pneumonia, asma, iritasi mata atau kulit, segera dilaporkan ke Dinas Kesehatan kabupaten dan kota,” kata Zulkifli.

Dengan pencatatan yang lebih cepat, perkembangan kasus kesehatan di tengah situasi karhutla dapat dipantau secara berkala. Data tersebut juga menjadi dasar bagi pemerintah dalam menyiapkan pelayanan kesehatan apabila jumlah pasien mengalami peningkatan.

Di tengah kondisi udara yang belum stabil, masyarakat diminta memperhatikan kondisi kesehatan masing-masing, terutama ketika mulai muncul batuk, sesak napas, iritasi mata atau keluhan lain setelah beraktivitas di luar ruangan. (kpc)