Hotspot Riau Turun Drastis, BMKG Pantau 10 Titik Panas

Gambaran sebaran titik panas atau hotspot di Provinsi Riau. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Jumlah titik panas atau hotspot di Riau turun tajam dalam pemantauan terbaru BMKG. Sampai pukul 23.00 WIB malam tadi, hanya tersisa 10 titik panas yang tersebar di sejumlah kabupaten.

Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Gita D.S menyebut, hotspot tersebut tersebar di empat wilayah. Indragiri Hulu menjadi daerah dengan jumlah titik panas terbanyak. Kabupaten ini tercatat memiliki lima hotspot.

Sementara Bengkalis dan Pelalawan masing-masing terpantau dua titik. Satu titik lainnya berada di Indragiri Hilir.

Di sisi lain, jumlah hotspot Riau berada jauh di bawah beberapa provinsi lain di Sumatera dalam pemantauan yang sama. Total titik panas di Pulau Sumatera mencapai 1.153 titik.

Baca Juga :  Padamkan Karhutla Pelalawan, Empat Helikopter Water Bombing Guyurkan 50,4 Juta Liter Air

Sumatera Selatan mencatat jumlah tertinggi dengan 715 titik. Bangka Belitung berada di urutan berikutnya dengan 187 titik, disusul Lampung sebanyak 133 titik.

Aceh terpantau 44 titik. Kepulauan Riau memiliki 21 titik dan Sumatera Utara 18 titik. Jambi dan Bengkulu masing-masing mencatat 11 titik. Sumatera Barat hanya tiga titik.

Dengan 10 hotspot, Riau termasuk provinsi dengan jumlah titik panas terendah di Sumatera pada pemantauan tersebut.

Hujan Jadi Faktor Penekan Hotspot
Penurunan hotspot terjadi setelah sejumlah wilayah Riau mendapatkan hujan dalam beberapa hari terakhir. Guyuran hujan, termasuk yang terjadi pada akhir pekan, membuat kondisi permukaan di sejumlah wilayah menjadi lebih basah.

Baca Juga :  62 Hotspot Masih Terdeteksi di Riau, Inhil Jadi Daerah Dengan Sebaran Terbanyak

Kondisi tersebut dapat membantu menekan kemunculan titik panas. Namun, potensi kebakaran hutan dan lahan tetap perlu diantisipasi.

Meski hotspot menurun, masyarakat diminta tidak lengah. Titik panas dapat kembali muncul ketika kondisi lahan mengering dan cuaca lebih panas.

Kewaspadaan terutama diperlukan di wilayah yang masih mengalami kondisi udara kabur dan berawan. Pemantauan hotspot dan kondisi cuaca tetap menjadi bagian penting dalam mengantisipasi perkembangan kebakaran hutan dan lahan di Riau. (zul)