PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengusulkan pembentukan Pangkalan Aju (Posko Area Jangkauan Operasi). Fasilitas ini diharapkan membuat pengerahan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bisa dilakukan lebih cepat, ketika kondisi cuaca dan ancaman karhutla membutuhkan intervensi.
Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru, Warjono mengatakan, posisi Riau sebagai salah satu daerah rawan karhutla membuat dukungan fasilitas OMC di wilayah sendiri dibutuhkan.
Menurutnya, keberadaan pangkalan AJU akan memungkinkan pelaksanaan operasi dilakukan langsung dari Riau tanpa harus menunggu dukungan dari lokasi lain.
“Kita provinsi prioritas terhadap karhutla. Karena pangkalan AJU adalah stasiun yang bisa melakukan operasi modifikasi cuaca secara langsung,” kata Warjono di Kantor Gubernur Riau, Rabu (23/9/2026).
Konsep yang diajukan BMKG bukan sekadar tempat persinggahan pesawat. Pangkalan tersebut akan disiapkan sebagai fasilitas pendukung OMC, termasuk tempat penyimpanan bahan semai.
Warjono menyebut, gudang penyimpanan garam dan fasilitas untuk mendukung kegiatan OMC menjadi bagian dari kebutuhan pangkalan AJU.
Selama ini, salah satu bahan yang digunakan dalam penyemaian awan adalah natrium klorida atau NaCl. BMKG juga menyiapkan metode lain menggunakan flare yang ditembakkan menuju awan potensial untuk membantu proses pembentukan hujan.
“Ini juga sedang kita siapkan. Artinya pangkalan AJU ini akan dibuat sebagai gudang garam kemudian gudang untuk penanganan OMC,” ujarnya.
BMKG sendiri tahun 2026 telah menjalankan OMC di Riau. Data layanan OMC BMKG mencatat, operasi pembasahan gambut dan penanganan karhutla di Riau berlangsung pada 30 Juli sampai 16 September 2026 dengan penggunaan NaCl sebagai bahan semai.
OMC Menjangkau Wilayah yang Sulit Ditangani dari Darat
Warjono menjelaskan, OMC dibutuhkan sebagai salah satu instrumen dalam penanganan karhutla karena memiliki kemampuan menjangkau kawasan yang sulit ditangani melalui pengerahan personel di darat.
Intervensi dilakukan dengan memanfaatkan awan potensial yang tersedia. Bahan semai dimasukkan ke dalam sistem awan dengan harapan proses pembentukan hujan dapat berlangsung di wilayah sasaran.
“OMC sejauh ini paling efektif karena bisa menjangkau daerah-daerah yang tidak bisa ditangani dengan darat maupun water bombing,” katanya.
BMKG sebelumnya juga menjelaskan bahwa pelaksanaan OMC bersifat situasional. Operasi bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
Dengan adanya pangkalan AJU di Riau, dukungan operasional diharapkan dapat disiapkan lebih dekat dengan wilayah yang membutuhkan.
Pemprov Riau Diminta Siapkan Lahan
Rencana tersebut masih membutuhkan satu tahapan penting, yakni penyediaan lokasi.
BMKG telah menyampaikan kebutuhan lahan kepada Pemerintah Provinsi Riau. Pembahasan mengenai rencana tersebut juga telah dilakukan bersama Gubernur Riau.
Nantinya, pangkalan AJU akan dilengkapi berbagai fasilitas penunjang operasi, termasuk gudang penyimpanan bahan semai.
Ketersediaan fasilitas di daerah dinilai akan memudahkan persiapan ketika OMC harus digelar dalam waktu cepat. Apalagi penanganan karhutla membutuhkan respons berdasarkan perkembangan kondisi atmosfer dan lokasi munculnya titik panas.
Di tengah rencana penguatan fasilitas OMC, kondisi cuaca Riau mulai menunjukkan pergeseran menuju musim penghujan.
Sejumlah wilayah di bagian utara Riau, seperti Rokan Hulu, Rokan Hilir dan sebagian Bengkalis, mulai mendapat hujan. Pergerakan musim hujan kemudian diperkirakan meluas ke Kampar, Kuantan Singingi, Indragiri Hulu hingga Indragiri Hilir.
Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Desember.
Namun, BMKG masih mengingatkan adanya potensi karhutla hingga Oktober. Artinya, turunnya hujan di sejumlah wilayah belum serta-merta menghilangkan risiko kebakaran di seluruh Riau.
BMKG juga mewaspadai perubahan karakter cuaca saat memasuki musim penghujan, termasuk kemungkinan hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat.
Kondisi tersebut membuat Riau menghadapi dua risiko hidrometeorologi secara beriringan: sisa ancaman karhutla dan potensi cuaca ekstrem.
Warjono juga menyampaikan, berdasarkan pemantauan hingga 22 September 2026, tidak lagi ditemukan hotspot di wilayah Riau.
Meski situasi tersebut menjadi perkembangan positif, kesiapsiagaan tetap diperlukan. Karakter cuaca yang cepat berubah membuat pemerintah daerah dan instansi terkait perlu mempertahankan sistem pemantauan.
Pengalaman pelaksanaan OMC sebelumnya juga menunjukkan bahwa teknologi modifikasi cuaca telah menjadi bagian dari strategi mitigasi karhutla di Riau. Pada April 2026, BMKG bersama sejumlah kementerian, BNPB, TNI AU dan Pemerintah Provinsi Riau juga menjalankan OMC untuk menekan risiko karhutla.
Karena itu, usulan pembangunan pangkalan AJU tidak hanya berkaitan dengan penanganan kebakaran ketika api sudah muncul. Fasilitas tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kemampuan pencegahan dan respons cepat ketika kondisi atmosfer membuka peluang pelaksanaan OMC.
Bagi Riau, keberadaan fasilitas OMC di wilayah sendiri diharapkan dapat memperpendek waktu respons ketika ancaman karhutla kembali meningkat, sekaligus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi dinamika cuaca pada penghujung 2026. (ris)






