PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Kabut asap kembali menyelimuti Kabupaten Kampar, Riau, Senin (28/9/2026) pukul 13.00 WIB. Kondisi itu tampak dari peningkatan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang mencapai angka 181.
Angka itu menempatkan Kampar sebagai daerah dengan indeks pencemaran udara tertinggi di Riau pada waktu tersebut.
Parameter yang paling berpengaruh berasal dari PM10, yakni partikel pencemar berukuran relatif kasar yang dapat terbawa dalam asap dan debu. Konsentrasinya melonjak dibandingkan sehari sebelumnya yang masih berada di bawah angka 100.
Sementara itu, parameter PM2.5 tercatat 125. Partikel ini berukuran lebih halus dibandingkan PM10 dan juga menjadi salah satu indikator pencemaran yang berkaitan dengan asap kebakaran.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kampar, Idrus membenarkan tingginya angka pencemaran udara tersebut.
Menurutnya, data ISPUnet Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menunjukkan posisi Kampar berada di tingkat tertinggi dibandingkan kabupaten/kota lain di Riau.
“Saat ini berdasarkan data ISPUnet KLH, Kampar angka ISPU-nya paling tinggi,” ujar Idrus.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena peningkatan ISPU terjadi ketika tidak ditemukan titik panas di wilayah Kampar yang dapat dikaitkan langsung dengan kebakaran hutan dan lahan.
Data harian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Minggu (27/9) pukul 23.00 WIB mencatat hanya satu hotspot di wilayah Riau.
Saat yang sama, BMKG mendeteksi sekitar 1.011 hotspot di kawasan Sumatera. Titik panas dalam jumlah besar terpantau di sejumlah provinsi, seperti Sumatera Selatan, Lampung, Bangka Belitung dan Jambi.
Idrus menyebut, kondisi tersebut mengindikasikan bahwa penurunan kualitas udara di Kampar dapat dipengaruhi asap yang berasal dari wilayah lain.
Pergerakan massa udara dan arah angin dapat membawa partikel asap dari kawasan yang memiliki aktivitas kebakaran menuju daerah lain. Kampar pun berpotensi terdampak asap lintas wilayah.
“Jadi asap berasal dari provinsi lain. Berdasarkan data BMKG, masih banyak terdapat hotspot di luar Riau yang berpotensi menimbulkan kabut asap ke Kampar,” jelasnya.
Situasi ini membuat kondisi udara di Kampar tidak selalu berkaitan dengan ada atau tidaknya titik panas di wilayah kabupaten tersebut.
Sempat Membaik pada Malam Hari
Fluktuasi kualitas udara juga terjadi dalam rentang waktu kurang dari 24 jam.
Minggu malam, konsentrasi PM2.5 sempat turun hingga berada di bawah angka 100. Kondisi itu bertahan sejak sekitar pukul 19.00 WIB hingga Senin dini hari sekitar pukul 03.00 WIB.
Namun, perbaikan tersebut tidak berlangsung lama. Memasuki Senin pagi, kondisi udara kembali berkabut dan konsentrasi PM10 meningkat tajam hingga masuk kategori tidak sehat.
Kepala Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) Kampar, Adi Candra Lukita mengatakan, perubahan kondisi udara tersebut tidak dipicu oleh hujan.
“Tidak ada hujan tadi malam,” katanya.
Menurut Adi, perubahan konsentrasi polutan lebih berkaitan dengan dinamika angin, khususnya pergerakan angin dari arah selatan.
Minggu malam, kondisi udara sempat terlihat lebih bersih. Namun, kabut kembali muncul pada Senin pagi seiring perubahan kondisi atmosfer.
Perubahan tersebut menunjukkan kualitas udara di Kampar masih sangat dipengaruhi pergerakan polutan dari kawasan lain. Pemantauan ISPU dan kondisi hotspot menjadi penting untuk melihat perkembangan kabut asap dalam beberapa waktu ke depan. (tpc)



