PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Kabupaten Kampar, Riau, Senin (5/10/2026) semakin pekat. Jarak pandang menurun, sementara kualitas udara bergerak ke level yang mengkhawatirkan.
Kondisi tersebut terlihat di kawasan Kecamatan Tambang. Berdasarkan pemantauan aplikasi ISPUnet milik Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), indeks pencemaran udara di Kampar kembali masuk kategori sangat tidak sehat.
Angka ISPU bahkan telah berada di atas level 200 sejak dini hari. Pukul 01.00 WIB, indeks sudah menembus kategori tersebut dan terus bergerak naik hingga mencapai 258 pada pukul 10.00 WIB pagi.
Parameter yang paling kritis adalah PM2.5, yakni partikel sangat halus yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
PM2.5 dan PM10 Sama-sama Meningkat
Memburuknya kualitas udara Kampar tidak hanya terlihat dari parameter PM2.5. Konsentrasi PM10 juga mengalami kenaikan, Minggu (4/10/2026) malam.
Indeks PM10 mulai berada di atas angka 100 sekitar pukul 23.00 WIB. Angkanya terus menanjak dan tercatat mencapai 149 pada Senin pukul 10.00 WIB pagi.
Lonjakan tersebut menempatkan Kampar sebagai wilayah dengan kualitas udara terburuk di Riau berdasarkan pemantauan pada waktu tersebut.
Di posisi berikutnya terdapat Bunga Raya, Kabupaten Siak, dengan ISPU 251. Sementara Sanggoro, Kabupaten Bengkalis, mencatat ISPU 204. Ketiganya sama-sama berada dalam kategori sangat tidak sehat.
DLH Kampar Sebut Asap Berasal dari Luar Daerah
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kampar, Idrus, mengatakan kondisi kabut asap yang menyelimuti Kampar diduga tidak sepenuhnya berasal dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut.
Menurut dia, pergerakan asap juga dipengaruhi sumber kebakaran dari luar Kampar, bahkan dari luar Provinsi Riau.
“Hotspot di Riau sedikit. Dari Sumsel hotspot tertinggi,” ujar Idrus.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kondisi udara di Kampar tidak bisa dilepaskan dari dinamika kebakaran hutan dan lahan di wilayah sekitar. Asap dapat bergerak mengikuti kondisi atmosfer dan angin hingga mencapai daerah lain.
Warga Khawatir Dampak Kabut Asap
Meningkatnya konsentrasi polutan mulai dirasakan masyarakat. Udin, warga Bangkinang yang mengaku resah melihat kabut asap yang kian tebal.
Ia merasakan, kondisi udara mulai mengganggu kenyamanan dan kesehatan. Kekhawatiran terbesar juga tertuju kepada anak-anak yang tetap menjalani aktivitas sekolah ketika kualitas udara sedang berada pada level sangat tidak sehat.
Menurutnya, masyarakat membutuhkan langkah perlindungan yang lebih nyata ketika kondisi udara memburuk. “Tolong bagikan masker, buka posko kesehatan,” pintanya.
Permintaan tersebut mencerminkan kekhawatiran warga terhadap dampak kabut asap yang terus meningkat. Ketika indeks pencemar berada pada kategori sangat tidak sehat, masyarakat membutuhkan informasi kualitas udara yang mudah diakses serta langkah antisipasi untuk mengurangi paparan polutan.
Kabut asap yang semakin pekat kini bukan sekadar mengurangi jarak pandang. Kondisi tersebut telah menjadi persoalan kesehatan lingkungan yang dirasakan langsung masyarakat Kampar. (trp)






